30 Juli 2017

Love your self

"Badannya bagus ya, body goals banget. Da aku mah apa.”

“Dia pintar banget ya? Lulus kuliahnya cepat. Nggak kayak aku.”

“Senang ya pasti jadi dia. Pintar, cantik lagi.”

"Kalau putih mak enak ya, kaya dia"

"Muka nya judes banget sih heran"

Seberapa sering sih kalian dengar hal-hal sejenis kalimat diatas diucapkan sama orang di sekitar kalian? Atau seberapa sering diri kalian sendiri mengucapkan kata-kata tersebut?

Tulisan ini terinspirasi dari opini kak gita, pengalaman gue dan orang-orang di sekitar gue. Ceritanya gue mau nyoba nulis yang agak bener.

Manusia itu membuat terlalu banyak penilaian. Kita menilai diri kita sendiri atau orang lain yang begini lah begitu lah. Selain mencari keburukan diri sendiri, kita juga senang sekali mencari keburukan orang lain. Kadang nggak kenal, tapi hanya ketemu sepintas di jalan pun kita sempat saja memberi penilaian. Tiba-tiba kita menjadi orang yang cekatan buat hal itu.

Nggak sedikit orang yang terlalu sibuk mengurusi kecantikan luar untuk mendapatkan pengakuan. Hal ini juga timbul karena dorongan dari tingkah manusia yang suka menilai. Kita jadi lupa kalau kita yang mengatur dunia kita, bukan dunia yang mengatur kita. Gue pun sempat ngerasa jadi seperti budak dunia gitu, lho.

Terus pengakuan yang seperti apa? Standar cantik itu sebenernya gimana, sih?
Kita tau standar itu dibuat untuk yang terlihat mata, jadi ke sanalah seluruh perhatian tercurah. Kulit putih cerah merona, rambut lurus, badan langsing, hidung mancung. Kebanyakan orang menaruh standar disitu.
Tapi kadang selalu saja ada orang dengan kulit cerah justru jadi ngerasa pucat, ngerasa kaya mayat, jidat kekecilan, jidat kelebaran. Terus jidat yang "ideal" itu seperti apa? Jidat yang sedang? Whut.. apanya yang standar kalau manusia saja tidak pernah puas.

Kita hanya memperhatikan omongan orang, lupa memperhatikan keinginan diri sendiri. Kenapa harus mengikuti selera orang lain? Kita menjadi seolah-olah hidup untuk membahagiakan orang lain.
Selama kita belum bisa menerima diri kita sendiri, kita bakal selalu merasa ada yang kurang oke. Karena rasa cantik itu nggak muncul dari pengakuan orang, melainkan dari dalam dirimu sendiri.

Banyak orang ingin mudah dicintai dan dihargai orang lain, tapi kadang lupa kalo semua harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

Bener kata kak gita, kalau kita bertemu sama seseorang, yang pertama kali kita lakukan adalah menilai dirinya dan mencari celanya. Yaaaaa, entah itu muka ataupun bagian fisik lainnya. Pipinya terlalu chubby lah, jidatnya lebar banget, alisnya kaya sinchan lah. Kadang habis itu lanjut dengan menilai hidupnya. Budak dunia banget nggak, sih?
Kalau kalian pernah atau sedang baca komik webtoon yang judulnya Gangnam Beauty, kalian pasti tau kalau tokoh Mirae selalu menilai seseorang dengan standar kecantikan yang lingkungan mereka sepakati. 80, 75, 96, pakai angka!

Dulu pun gue manusia yang sering memiliki pikiran buruk. Entah itu ke diri gue maupun ke orang lain. Kadang gue melihat diri gue di kaca, yang gue liat adalah betapa tidak idealnya badan gue, kurus banget dan gue menyesali kenapa kulit wajah gue gak bisa normal aja kaya orang-orang pada umumnya tanpa masalah serius sehat cerah sentosa luar biasa.

Terus apa yang gue dapat? ya gue nggak pernah bersyukur. Gue nggak pernah menghargai diri gue sendiri. Gue nggak pernah mengapresiasi apa yang diri gue lakukan dan apa yang gue punya. Pikiran gue sempit dan keruh gitu sih. Gue gak sadar kenapa ketika gue melihat diri gue dikaca yang terlintas cuma pikiran ngerasa "kok gini, kok gitu, kenapa sih kok...."

Terus ternyata orang yang nggak menghargai diri sendiri biasanya juga tidak menghargai orang lain. Setiap kali ketemu orang, selalu aja ketemu kurangnya. Begitu pula dengan apapun yang orang lain kerjakan dan hasilkan. Pasti gue cari kurangnya. Padahal gue sebenernya nggak tahu apa-apa di balik yang gue lihat. Mungkin aja ada kerja keras, susah payah dan banyak duka yang dia rasakan dan dengan mudahnya gue cuma menilai apa yang gue lihat.

Nggak tau caranya menghargai diri sendiri, tapi minta dihargai orang lain. Suka mencari kurangnya orang lain. Begitulah. Gue nulis ini sebenernya gue lagi reminder diri gue sendiri kalo gue bener-bener jadi kaya manusia yang sia-sia banget dulu.

Tapi benar, lama-kelamaan gue bosan dengan ketidakbenaran gue memandang segala hal. Gua lelah menjadi budak duniaaaaaaaa. Gue berlatih untuk paling tidak nggak memberi penilaian terhadap apapun, baik di diri gue maupun diri orang lain.

Gue berusaha.

Gue mulai berfikir seperti yasudah lah kalau memang alis gue belah ya belah aja. Kalau memang gue kurus yasudah paling tidak alhamdulilah gue sehat. Itu suatu kenikmatan besar dibanding sekedar badan berisi seperti yang gue damba-dambakan. Kalau memang kulit wajah gue lagi bermasalah, nggak sama dengan warna kulit asli gue yasudah kenapa memusingkan itu. Gue cuma perlu cari solusi supaya warna kulit gue balik. Gue mengurangi untuk memusingkan hal-hal yang tidak perlu dipusingkan. Gue pun menahan diri, gue belajar untuk tidak menilai atau mengusuri orang lain.

Jadi, berawal dari mencintai diri sendiri dengan baik, membuat kita jadi pribadi yang lebih rendah hati dalam menilai orang lain. Kalau gue dan setiap orang mampu menghargai kekurangan dan kelebihan diri sendiri dengan baik, maka bakal mudah untuk menghargai  kekurangan dan kelebihan orang lain.

Jangan menjadi orang yang haus akan pengakuan.

Hargailah dirimu juga orang-orang di sekitarmu. Mulailah untuk melihat indahnya dirimu dan hidupmu, bukan segala kurangnya:).

0 komentar: