14 Agustus 2017

Penilaian

Bicara soal fisik, di tulisan gue sebelumnya gue sempat menyinggung soal beauty standart. Gue setuju bahwa worth perempuan tidak dilihat dari fisik semata. Begitu juga dengan cowo.

So, yea... mangga saling mengeluarkan opini.

Gue kurang menghargai orang yang langsung nge-cut orang lain hanya karena fisiknya. Entah untuk sebagai teman, partner kerja, atau pasangan, di mata gue, fisik yang oke itu nomer ke sekian.

Sampai sini kayanya sudah ada yang mulai berpikir kayanya gue omdo banget gitu lho.

"Nggak mungkin deh, siapa sih yang nggak suka sama yang cakep?"

Oke, oke.
Di belahan dunia manapun, kita nggak bisa melawan hukum alam yang satu ini, alias pasti melihat fisik. Tapi beda ya antara melihat fisik dan memuja fisik. Nah soal fisik ini relatif. Nggak bisa cantik itu didefinisikan dengan kulit putih, mancung, dagu lancip, pipi tirus dsb. Atau ganteng itu beralis tebal, mancung, wajah berstruktur, dll. Pokoknya tergantung persepsi yang melihat.

Jadi bukan rahasia umum kalau ketemu dengan seseorang yang kita nilai duluan adalah fisik. Gue nggak menyanggah, karena gue juga begitu. Bedanya sekarang gue belajar menahan diri untuk melihat-lihat atau mencari-cari kekurangannya, dalam konteks fisik ya. Pada intinya yang ingin gue utarakan disini adalah bertahan atau tidak hubungan yang kita jalin dengan orang lain itu bukan fisik yang menentukan, menurut gue.

Gue mau ambil contoh lain dari yang dekat-dekat aja. Nggak sedikit anak-anak muda SMA mulai dari yang biasa aja sampai yang asik, ketika semasa sekolah punya temen-temen deket. You know lah sebagian menyebutnya "geng", tapi klimaksnya hanya karena beda kelas mereka BUBAR. Yaudah sampai situ aja.

Kenapa?

Jawabannya, seleksi alam. Lebih dari sekedar penilaian fisik, tapi soal isi dari dalam diri.

Gue serius, ada orang yang cenderung lebih menyukai untuk berteman dengan yang cantik. Tapi pertemanan semacam itu nggak akan bertahan lama, menurut gue. Mereka yang berteman mengatasnamakan fisik, pada akhirnya tetap mencari seseorang yang benar-benar mengerti. Yakni mereka yang menerima apa adanya, nggak hanya hadir saat suka tapi saat duka juga ada. Mereka yang nggak meninggalkan di momen tergelap dalam hidup, mereka yang dengan gigih mendukung setiap dihadang masalah.

Bagaimanapun rupa nya, cantik, ganteng, bagus, sedang, biasa aja, biasa banget kalau lo nggak menemukan kenyamanan dan kecocokan dengan mereka, nggak lanjut.

Apasih pentingnya pengakuan kalau lo bisa dapet teman murni?

Gue paham kalau setiap orang berhak menentukan pilihannya sendiri. Terlepas apa dasar seseorang dalam memilih teman, partner dan pasangan. Gue nggak bisa nyuruh-nyuruh orang lain harus sama dengan cara pandang gue. Makanya disini gue ngajak lo buat ngelihat dari cara pandang yang berbeda. Siapa tahu cara pandang kita berbeda. Jadi asik, kan?

Gue pribadi menghargai apa isi dari orang lain itu sendiri. Pembawaan, isi kepala, isi hati. Jiwa yang jujur, hati yang baik, empati tinggi, wawasan yang luas, carring, loving, acceptance.

Itu semua lebih penting dari sekedar wajah cakep. Value seseorang itu nggak dinilai hanya dari wajah.

Gue pribadi nggak mau ngeskip kualitas-kualitas itu cuma karena fisik coy. Kalau dapat yang cakep macam zayn malik yaaa berarti rejeki. Bonus!

Hehehe.

Nah, kalau terus-terusan menomersatukan fisik, bisa aja lo kehilangan cewe atau cowo yang super valueable hanya karena kekompleksan lo tentang fisik. Pilih-pilih temen atau pasangan itu sah-sah aja. Tapi dasar yang lo pakai dalam memilih aja yang kadang jatuhnya jadi diskriminasi.

So, ayo dong, lebih menghargai kualitas diri manusia. Baik itu perempuan atau laki-laki. Saatnya kita menjadikan karakter sebagai kriteria nomor satu untuk dijadikan teman, pasangan, partner kerja dan sebagainya. Merdeka!

Yaudah deh gitu aja, daaaa.

01 Agustus 2017

Nulis 100 Impian

"Bermimpilah setinggi langit, sekalipun jatuh, kamu akan jatuh diantara bintang-bintang"

Sudah ciamik belum nih pembukanya?
Anyway, kadang kita butuh quotes buat naikin percaya diri atau sekedar menghibur diri.

Kita ke pengertian dulu. Definisi impian secara sederhana adalah sebuah hasrat yang benar-benar kita inginkan, dan apapun kondisinya harus terwujud.

Apa sih pentingnya sebuah impian?

Bagi sebagian orang, mereka tidak begitu peduli dengan impian. Yang penting bisa hidup aja deh. Hidup seperti air, tapi sayangnya kita lupa, air yang mengalir itu selalu mencari tempat terendah. Lalu sebagian orang lainnya memiliki impian setinggi langit.

Oke, impian itu bos!

Gue mau pakai pengandaian nih.
Ketika kita seorang karyawan dan kita memiliki Bos. Kita tahu Bos selalu cenderung mengatur dan memaksa kita atas apa yang harus kita lakukan dan kerjakan untuk mencapai suatu tujuan. Sebagai karyawan kita pasti akan melakukan perintah semaksimal mungkin dong! Sama nih dengan impian. Saat kita menginginkan sesuatu maka impian itulah yang memaksa kita untuk rela menguras tenaga, waktu dan pikiran hanya untuk mewujudkannya.

Bukan rahasia umum lagi kalau orang-orang lebih suka dengan yang gratisan. Gratis apa bayar? Gue sih gratis. Hehehe. Bermimpi itu gratis guys. Jadi jangan pernah tanggung-tanggung untuk bermimpi. Sip!

Bicara soal impian sepertinya nggak bakal ada habisnya. Ketika gue bisa nulis 100 impian, gue percaya kalian bisa nulis 1000 impian. Trust me.

Cerita sedikit deh..

Awal bulan Juli kemarin gue habis nulis 100 impian yang mana berkaitan dengan finansial, relationship, sosial, intelektual, kesehatan dan spiritual. Gue tulis 100 impian itu di kertas. Sebenernya nggak pernah terpikir untuk menuangkan impian-impian yang selama ini gue simpan ke dalam tulisan. Tapi ternyata gue diberi kesempatan buat nulis itu semua. Lewat istilah "Tugas" gue benar-benar menulis aksara-aksara kecil yang berisi banyak impian. Sempat mikir apa iya sih akan sampai seratus, tapi ternyata gue tahu kalau impian gue banyak juga ya, hehe.

Selain harus menulis 100 impian, tugas lainnya yaitu menulis goals menjadi reseller. By the way ceritanya sekarang gue lagi menjadi reseller kado unik handmade gitu. Rules nya harus ditulis tangan dan minimal tujuh halaman kertas HVS, luar biasa!
Ada waktu sekitar enam hari untuk mengerjakan, dan gue hanya pakai hari terakhir. Sombong dan malas itu beda tipis guys. Jujur awalnya gue nulis impian-impian itu untuk sekedar tugas yang harus selesaikan, tapi makin jauh menulis gue makin merasa seperti terharu sendiri dengan apa yang gue tulis. Banyak harapan dari setiap huruf yang disusun dan gue meniknati menulis semuanya hingga akhir.

Temen gue sempat mengatakan sesuatu "impian itu diwujudkan, bukan di tulis"

Hmmmmm...

Bener sih, tapi nggak ada yang salah dari nulis impian, menurut gue. Sambil menulis katanya akan mempengaruhi alam bawah sadar. Gue bersyukur kepada Allah, punya impian yang banyak dan nambah mulu impiannya. Bisa dikatakan impian yang satu belum selesai, sudah nambah lagi impian yang lain. Bukan hanya bermimpi terus, bekal untuk mengembangkan dan mewujudkan itu semua sedang di siapkan. Impian-impiam itu terus diperjuangkan dan akan diwujudkan. Begitu sambil mengejar impian yang lain. Intinya ikhtiar, doa, dan tawakal. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah telah berkehendak, kan? InsyaAllah.

Cerita lagi nggak apa ya?

Jadi gue punya impian yang kala itu gue tulis di tugas 100 impian di bidang finansial. Salah satu dari impian gue itu punya brand clothing sendiri. Targetnya di umur 19 tahun atau 20 tahun gue udah harus merealisasikan impian gue itu sih. Gue bahkan udah kepikiran pakai Chindo buat jadi nama brand usaha clothing gue hehe

Pernah suatu waktu gue cerita ke mama soal impian gue itu, responnya begini.

"Bisnis yang biasa-biasa aja dulu, yang penting untungnya sudah lumayan."

Kata mama sambil senyum. Maksud mama gue disini bisnis yang biasa-biasa itu seperti jadi reseller, jadi nggak perlu butuh modal banyak, begitu. Gue cengar cengir, gue paham sih kenapa mama gue bilang begitu, modal untuk usaha clothing brand sendiri atau yang katanya self-manufactured itu gak sedikit, mulai dari beli bahan, jasa menjahit, dll. Tapi gue tetep kekeh dong sama impian gue. Mendadak gue jadi suka kata "pokoknya". Gue pingin milih dan beli bahan yang gue suka, milih warna yang gue suka, lalu mendesain sendiri baju yang akan gue pasarkan. Gue ngebayangin aja sudah senang banget. Dunno, kayanya bakal asik banget terjun di dunia yang seperti itu. Kalau bisa menjadi lebih dari sekedar reseller kenapa nggak? Gue mau jadi ownernya. Gue nggak mau jadi yang biasa-biasa aja.

Tapi terlepas dari itu semua, bukan berarti gue mengeyampingkan saran mama gue. Kalau gue keras kepala dengan impian gue, gue juga bakal keras kepala untuk terus nabung buat modal usaha impian gue nanti. Jadi, seimbang kan?

Buat kalian, gue percaya kalian punya 1000 impian yang spekta. Lebih menakjubkan dari sekedar pingin punya brand clothing sendiri, gue yakin. Jadi, jangan patahin mimpi-mimpi itu. Gue percaya kalian mampu, apapun itu, kejar. Apapun itu, wujudkan. Kalian bisa lakukan lebih dari yang bisa kalian lakukan sekarang. Mulai untuk mempersiapkan bekal buat mewujudkan mimpi-mimpi itu dari sekarang. Bukan impian yang harus nunggu kita, tapi kita yang harus berjalan kesana. Kalau kita sendiri nggak percaya dengan impian kita, terus siapa yang mau percaya?

Sekalipun banyak orang yang meremehkan atau meragukan kemampuan kita, tetap tenang dan fokus pada mimpi itu. Belajar buat nggak melulu mendengarkan kata orang. Yakin kalau sukses itu hanya perkara waktu. Entah sekarang, besok, nanti. Intinya selama mau berusaha dan berdoa, mimpi nggak hanya ada di kepala. Suatu hari nanti, apa yang diimpikan itu bakal benar-benar sampai dalam genggaman. Entah sebahagia apa tapi di saat itu, kita bakal tahu kalau kita mampu berjuang tanpa mau menyerah dan dikalahkan keadaan.

We was born to be awesome. Jangan mau jadi yang biasa-biasa aja.

Selamat berjuang!❤