25 Agustus 2017

Youtubers Favorit

1. Suhay Salim


"Hello, welcome back to my channel, kali ini....."

Saking cintanya, gue sampai hafal opening video nya Suhay. Nggak usah gue sebutin kenapa i love her, personality yang easygoing, cara bicaranya yang cepat, lugas dan jujur, itu yang membuat gue suka nontonin videonya. Ya itulah dia yang to the point, kadang suja keceplosan kata-kata yang spontanitas tapi kocag abis. Cuma Kak suhay yang pernah punya jerawat segede-gede rumah.

Oiya ujung-ujungnya gue sebutin juga ya.

Kak suhay adalah salah satu Beauty Vlogger yang berhasil menebar racunnya tentang make up ke gue. Nggak hanya cantik dan punya personality, alat yang dia pakai nggak muluk-muluk dan menurut gue bisa dijadikan referensi bagi yang baru-baru suka sama make up. Iya, yang gue suka dia ngga ribet. Banyak Beauty Vlogger yang ngerave suatu hal tapi cuma dipakai sekali. Gimana ya, barang yang frequent dipakai sama si Beauty Vlogger membuat gue yakin bahwa produk itu bagus.

Di video-videonya, Kak suhay selalu memainkan make up mata dengan warna-warna yang super cantik. Ngomong-ngomong make up dia bagus banget. Gue sering nonton video skincare dan make up tutorialnnya yang kelihatan masih bisa gue ikutin, walaupun nyatanya tetap aja gue pakai eyeliner aja nggak bisa. Sedih nggak gue?

Video Kak suhay favorit gue adalah "Produk make up untuk Pemula", itu adalah rekomendasi alat-alat make up yang paling masuk akal menurut gue. Produk-produknya mudah dicari, dan harganya yang masi normal. Simple abis, nggak muluk-muluk dan bisa banget diikutin terutama sama orang-orang buta make up kaya gue. Hehehe.

Makanya kapan-kapan kalo ketemu gue mau salim.


2. Affi Assegaf


Beberapa bulan terakhir gue keracunan skincare dari salah satu beauty influencer dari channel Youtube female daily. Kak Affi sendiri adalah founder salah satu situs perempuan terbesar di Indonesia saat ini yaitu femaledaily.com.

Menurut gue, Kak Affi itu wanita masa kini yang sukses meracuni sekian banyak wanita dengan pengetahuannya mengenai skin-care. Ilmu nya tentang skincare banyak banget!

Pada channel youtube Femaledaily, Kak Affi punya segmen khusus yaitu Skin Care 1001. Skin Care 1001 ini sekarang jadi favorit gue akhir-akhir ini, gue berasa lagi kuliah gitu setiap dengerin review dari Kak Affi. Penyampaiannya detail, informatif, lugas, lengkap dan nggak ngebosenin sama sekali. Kalau dosennya Kak Affi yang orangnya super ramah dan materi kuliahnya tentang Skin Care kayanya berjam-jam juga gue betah.

Video pertama Kak Affi yang gue tonton adalah "10 steps korean skincare routine Indonesia" di segmen Skin Care 1001. Dari situ lah gue mulai keracunan. Keracunan yang menyenangkan, Skin Care itu investasi. *asik


3. Gita Savitri Devi


"Halo semuanyaaaaa...."

Opening simple ini adalah milik Youtuber favorit anak muda, Gita Savitri Devi. Konten videonya yang positif, menginspirasi banyak orang, dan gaya bicaranya yang santai dan gaul membuat gue suka dengan video-videonya Kak Gita. Asik deh pokoknya, udah banyak pelajaran yang gue dapat sehabis nonton videonya Kak Gita ini. Ketika banyak orang menyukai videonya tentang Jerman, gue sih pribadi memfavoritkan videonya yang membahas soal berbagai isu.

Sebelum gue keracunan Skin Care karena Kak Affi, Kak Gita sudah lebih dulu ngeracunin gue sama Skin Care Korea lewat video-videonya di Youtube, dan gue langsung jatuh cinta.  Mereka semua pada akhirnya membuat gue mulai menabung.

Well, sampai saat ini kuota gue habis karena mereka bertig

24 Agustus 2017

Eksperimen Sosial : Body Shaming

Lo udah jengah belum sih ngomongin fisik?

Baru pembuka aja gue udah ngasi pertanyaan ya. Gue lupa kalau cewe nggak suka di tanya, tapi suka di komen "cantik". SAIKK.

Lagi-lagi yang akan gue tulis di kesempatan ini ada kaitannya dengan fisik, bedanya kali ini berhubungan dengan Selebgram Indonesia. Kalau lo mantengin media sosial semacam YouTube atau Instagram, lo pasti udah nggak asing dengan sosok yang gue maksud tadi. Ya, Gita Savitri Devi. Mungkin, lo udah sering ngelihat foto-foto kecenya muncul di explore Instagram lo. Atau lo adalah salah satu subscriber chanel YouTubenya juga followernya di Instagram?

Waduh, tercydoek.

Pemilik wajah putih mulus nan bikin netizen pingin komen mulu di postingan Instagramnya ini, baru saja menyelesaikan studinya di Jerman. Kak Gita secara aktif manfaatin saluran YouTube-nya buat berbagi vlog inspiratif  dari perjalanannya berkuliah di Jerman, juga opininya tentang berbagai isu di Indonesia.


Baru-baru ini, gue sempat melihat postingan Kak Gita di instagram yang muncul di Home instagram gue. Dengan akun Instagram @gitsav nya, Kak Gita mengunggah foto ketika dirinya di atas perahu setelah syuting salah satu program televisi swasta di Nusa Tenggara Barat. Di foto itu dia kelihatan nggak make up sama sekali. Dia memperlihatkan bagaimana penampilannya tanpa pake alis dan kulit wajahnya yang menggelap.

"Waduh, panas banget lah di pantai"

Itu yang terlintas di pikiran gue pertama kali ketika lihat foto Kak Gita.

Gue nggak mengira kalau foto tersebut bakal cukup memancing komentar yang macam-macam dari netizen. Caption foto Kak Gita "gitu aja kok repot", membuat gue mikir kalau Kak Gita sengaja posting foto yang beda dari biasanya untuk melihat bagaimana respon netizen.

Kenapa gue bisa mikir begitu?

Sebelum foto itu di posting, gue sempat nonton video Kak Gita di chanel Youtube nya. Di situ gue bisa menangkap apa yang ingin di sampaikan Kak Gita, tentang bagaimana horror nya Social Media sekarang. Dimana orang bisa dengan gamblang nya berkomentar atau menjudge orang lain lewat Social Media, yang sebenarnya itu tahu kalau di balik akun itu ada orang nya, ada manusia nya, dia punya hati yang bisa merakan emosi juga gitu lho, entah sedih, kecewa, sakit hati. Dan sebenarnya juga kita tahu mengoreksi orang atau mau memberi tahu itu ada normanya, ada caranya. Kita bisa banget lho memilih-memilih kata yang baik, yang biasa-biasa aja, yang kiranya nggak akan menyakiti hati orang lain.

Balik lagi ke postingan Kak Gita, gue pribadi nggak kaget melihat di foto itu dia alisnya botak, kulitnya gelap, dan ada jerawatnya. Kenapa? Nggak ada yang aneh menurut gue, sebelumnya gue udah pernah lihat kak gita wajahnya ketika bare face di video-video nya, jadi melihat foto di postingan itu ya nggak gimana-gimana gitu lho. Bedanya hanya kulitnya yang lebih gelap karena panas-panasan di pantai aja.

Ternyata foto tersebut benar menuai ragam komentar netizen coy. Foto Kak Gita mendapat lebih dari 71 ribu likes dan kurang lebih 1600 komentar sampai saat ini. Banyak yang melakukan Body Shaming ke kak Gita di Instagram hingga menimbulkan perdebatan. Nggak hanya itu, ada juga yang mengkritik eksperimen sosial ini.

"Tua bgt," tulis @aishaptr.

"Dah iteem," tambah @amelnande.

"hoo sengaja post gini biar banyak yg komen jelek trus ka gita bisa nyinyirin balik hahah nice move," kata @edhimedhim.

"Jelek," ucap @bachtiarkenan.

"Ka gita alisnya telanjang:(" tulis @pinkaankrmy.

"@gitasav Gue ga pernah bilang body shaming bener, tapi dari kasus social experiment lo, terkesan kalo lo emang nyari2 tuh komen negatip. Buat nanti lo suarakan, agar sejalan dengan pemikiran dan hal yang beberapa hari ini jadi concern lo (tentang body shaming, sexist,etc). Nah cara lo 'tes ombak' seperti itu yang (menurut gue, sorry para fans2 mbakgits yang budiman) agak childish, sorry to say," komentar @rianyer.

Meski ada beberapa yang melakukan Body Shaming dan mengkritik namun sebagian besar mendukung eksperimen sosialnya ini. Banyak yang memuji sekaligus membela Kim Ji Won nya Indonesia.

"Sebelum gita upload foto ini, gue udah lebih dulu nonton updatean youtubenya yang life update + ngobrol tentang hate speech... dan menurut gue foto ini emang beneran dia post buat social experiment.... bukan karena banyak yg negatif comment lantas dia update di instastory ujuk2 langsung bilang ini social exp biar terkesan bla bla bla.... emang dia mau kita kita ini harus punya norma... sopan sama yg lebih tua....punya adab jangan asal nge judge bla bla.. jangan gampang hate speech... kalo lo gasuka lebih baek lo diem... dprd lo nebar benci kemana mana.... sapa tau orang yg lo hina rela bunuh diri gegara tulisan lo coy…" tulis @nyiayua.

"Gita yg cantik post foto polos tanpa makeup aja banyak yg nyinyir apalagi aku yg butiran debu ini. Gak yakin yg komen negatif sendirinya bisa pede sama mukeeee tanpa makeup mereka 😯. Tulunglah fren tulung," tambah @flavvyroom.


Tapi percaya atau nggak, ada satu fenomena yang mirip-mirip dengan bullying, sering banget terjadi, dan terkesan lumrah.

Perkenalkan: Body Shaming

Body shaming itu cuma istilah lain untuk “mencela orang lain atau dirimu sendiri karena penampilan fisiknya”. Gampang nya mengomentari fisik seseorang dengan negativitas. Nah, Body Shaming ini lah yang kita temuin dari beberapa komentar di foto Kak Gita.

Nggak begitu lama dari postingan tersebut, mungkin beberapa jam setelahnya, gue lupa. Kak Gita membuat Story di Instagram menyinggung foto yang dia posting sebelumnya. Kak Gita mengaku sengaja mengunggah foto tersebut sebagai eksperimen sosial. Dia juga menjelaskan maksud dari eksperimen sosialnya di Story itu. Kak Gita mengatakan kalau ternyata wanita yang tidak merias alis, menghitam karena matahari, dan tidak bermakeup masih menjadi hal tak biasa untuk netizen.

Gue sempat screenshoot story nya, lo bisa baca apa yang di sampaikan Kak Gita.




Well, gue sih pribadi setuju dengan apa yang disampaikan Kak Gita lewat Insta Story nya. Fenomena body shaming memang benar-benar terjadi di lingkungan kita, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Apalagi sekarang Social Media punya kekuatan dan pengaruh yang luarbiasa. Bermain sosmed itu ada tata krama nya cuy, lo bisa memilih kata yang baik dan biasa-biasa. Walaupun yang kita pandang itu Handphone, tapi yang baca itu manusia, yang punya hati dan perasaan, baik itu Public Figure ataupun orang biasa. Yang gue tangkap dari maksud Kak Gita dengan posting foto itu adalah untuk mengubah kebiasaan buruk netizen yang "to the point" banget, terutama berkomtar tentang fisik. Dia mengharapkan orang-orang untuk berpikiran lebih terbuka dan menanamkan mindset 'mencintai diri sendiri', gitu.

Istilah Body Shaming sendiri gue belum lama tahu, tapi praktiknya udah sering banget gue lihat dan gue dengar. Sengaja mengomentari bentuk fisik seseorang dengan stigma yang kurang pantas buat diucapkan. Standar wanita harus cantik, putih, mulus, dan sebagainya menimbulkan perbandingan yang kuat banget untuk me-labelling dia cantik, dan dia jelek.

Sadis gak coy?

Dan nggak jarang mereka yang suka melakukan Body Shaming ini mengatakan "Lebay amat sih!", "Baperan", "Bercanda doang kali", "Kaya apa aja dah", di situlah gue merasa aneh aja gitu. Kalau kata-kata hanya sekedar kata-kata nggak akan ada yang namanya sakit hati, atau kecewa.

Cuma kata-kata kan?

Tapi kita lihat lebih dalam lagi deh, kalau itu cuma sekedar "kata-kata", gue rasa nggak mungkin banyak kasus di luar sana yang mengungkapkan kalau banyak kisah depresi yang di akibatkan oleh bully pada fisik. Itu fatalnya, dampak kecilnya paling tidak lo udah buat dia sedih, sakit hati, atau bahkan setelahnya dia nangis di kamarnya karena kata-kata lo, dan lo nggak tahu.

Berhubungan dengan fisik, gue udah sering bahas di tulisan-tulisan gue sebelumnya. Nge-scanning wajah orang, beauty standar, body shaming, gue melihat fenomena-fenomena itu nggak baik untuk dilakukan.

Kalau lo ketemu temen lo pun, lo bisa basa-basi yang lain selain soal fisik kalau kiranya basi-basi yang akan lo keluarkan itu bakal nyakitin perasaannya.

Kalau lo benar-benar peduli, temani mereka makan, traktir makan yang banyak supaya gendutan sesuai yang lo mau. (Buat temen-temen gue yang bilangin gue kurus, kapan dan dimana nih? Hahaha) Atau kalau lo mem fat-shammingan temen lo, alangkah lebih baiknya kalau lo temani dia olahraha sehingga mendapatkan bentuk tubuh yang ideal atau yang sering lo bilang "body goals" itu. Dan sahabat lo yang lama nggak ketemu terus lo katain "ih lu kok iteman" bisa lo ajak maskeran bareng supaya kulit wajahnya kembali cerah, sehat, sentosa. Jauh lebih baik kan daripada hanya lo body shaming-in mulu?

Pada akhir tulisan, gue mengajak pembaca untuk tidak melakukan body shaming. Jangan sampai nilai-nilai kesopanan yang udah di tanamkan sama orang tua lo, keluarga lo, dan guru pkn lo kian memudar. Banyak lho yang bisa lo hargai dari diri sesorang lebih dari cuma sekedar tampilan fisik atau tampang. Kita bisa belajar menghargai kualitas dari diri orang lain.

Sebenarnya dengan menerima diri sendiri dan bersyukur, kita bisa terhindar dari perilaku body shaming itu sendiri. Ketika di diri kita tertanam rasa menerima diri sendiri, kita nggak akan terdorong untuk membicarakan penampilan seseorang. Kita tahu kalau nggak ada yang sempurna, kita akan cenderung berhati-hati ketika berbicara dengan orang lain dan lebih menghargai keadaan mereka.

Ayo deh kita bareng-bareng mulai bersyukur dan stop body shaming.

Oke, daaaaahhhh gue lelah.

14 Agustus 2017

Penilaian


Bicara soal fisik, di tulisan gue sebelumnya gue sempat menyinggung soal beauty standart. Gue setuju bahwa worth perempuan tidak dilihat dari fisik semata. Begitu juga dengan cowo.

So, yea... mangga saling mengeluarkan opini.

Gue kurang menghargai orang yang langsung nge-cut orang lain hanya karena fisiknya. Entah untuk sebagai teman, partner kerja, atau pasangan, di mata gue, fisik yang oke itu nomer ke sekian.

Sampai sini kayanya sudah ada yang mulai berpikir kayanya gue omdo banget gitu lho.

"Nggak mungkin deh, siapa sih yang nggak suka sama yang cakep?"

Oke, oke.
Di belahan dunia manapun, kita nggak bisa melawan hukum alam yang satu ini, alias pasti melihat fisik. Tapi beda ya antara melihat fisik dan memuja fisik. Nah soal fisik ini relatif. Nggak bisa cantik itu didefinisikan dengan kulit putih, mancung, dagu lancip, pipi tirus dsb. Atau ganteng itu beralis tebal, mancung, wajah berstruktur, dll. Pokoknya tergantung persepsi yang melihat.

Jadi bukan rahasia umum kalau ketemu dengan seseorang yang kita nilai duluan adalah fisik. Gue nggak menyanggah, karena gue juga begitu. Bedanya sekarang gue belajar menahan diri untuk melihat-lihat atau mencari-cari kekurangannya, dalam konteks fisik ya. Pada intinya yang ingin gue utarakan disini adalah bertahan atau tidak hubungan yang kita jalin dengan orang lain itu bukan fisik yang menentukan, menurut gue.

Gue mau ambil contoh lain dari yang dekat-dekat aja. Nggak sedikit anak-anak muda SMA mulai dari yang biasa aja sampai yang asik, ketika semasa sekolah punya temen-temen deket. You know lah sebagian menyebutnya "geng", tapi klimaksnya hanya karena beda kelas mereka BUBAR. Yaudah sampai situ aja.

Kenapa?

Jawabannya, seleksi alam. Lebih dari sekedar penilaian fisik, tapi soal isi dari dalam diri.

Gue serius, ada orang yang cenderung lebih menyukai untuk berteman dengan yang cantik. Tapi pertemanan semacam itu nggak akan bertahan lama, menurut gue. Mereka yang berteman mengatasnamakan fisik, pada akhirnya tetap mencari seseorang yang benar-benar mengerti. Yakni mereka yang menerima apa adanya, nggak hanya hadir saat suka tapi saat duka juga ada. Mereka yang nggak meninggalkan di momen tergelap dalam hidup, mereka yang dengan gigih mendukung setiap dihadang masalah.

Bagaimanapun rupa nya, cantik, ganteng, bagus, sedang, biasa aja, biasa banget kalau lo nggak menemukan kenyamanan dan kecocokan dengan mereka, nggak lanjut.

Apasih pentingnya pengakuan kalau lo bisa dapet teman murni?

Gue paham kalau setiap orang berhak menentukan pilihannya sendiri. Terlepas apa dasar seseorang dalam memilih teman, partner dan pasangan. Gue nggak bisa nyuruh-nyuruh orang lain harus sama dengan cara pandang gue. Makanya disini gue ngajak lo buat ngelihat dari cara pandang yang berbeda. Siapa tahu cara pandang kita berbeda. Jadi asik, kan?

Gue pribadi menghargai apa isi dari orang lain itu sendiri. Pembawaan, isi kepala, isi hati. Jiwa yang jujur, hati yang baik, empati tinggi, wawasan yang luas, carring, loving, acceptance.

Itu semua lebih penting dari sekedar wajah cakep. Value seseorang itu nggak dinilai hanya dari wajah.

Gue pribadi nggak mau ngeskip kualitas-kualitas itu cuma karena fisik coy. Kalau dapat yang cakep macam zayn malik yaaa berarti rejeki. Bonus!

Hehehe.

Nah, kalau terus-terusan menomersatukan fisik, bisa aja lo kehilangan cewe atau cowo yang super valueable hanya karena kekompleksan lo tentang fisik. Pilih-pilih temen atau pasangan itu sah-sah aja. Tapi dasar yang lo pakai dalam memilih aja yang kadang jatuhnya jadi diskriminasi.

So, ayo dong, lebih menghargai kualitas diri manusia. Baik itu perempuan atau laki-laki. Saatnya kita menjadikan karakter sebagai kriteria nomor satu untuk dijadikan teman, pasangan, partner kerja dan sebagainya. Merdeka!

Yaudah deh gitu aja, daaaa.

01 Agustus 2017

Nulis 100 Impian


"Bermimpilah setinggi langit, sekalipun jatuh, kamu akan jatuh diantara bintang-bintang"

Sudah ciamik belum nih pembukanya?
Anyway, kadang kita butuh quotes buat naikin percaya diri atau sekedar menghibur diri.

Kita ke pengertian dulu. Definisi impian secara sederhana adalah sebuah hasrat yang benar-benar kita inginkan, dan apapun kondisinya harus terwujud.

Apa sih pentingnya sebuah impian?

Bagi sebagian orang, mereka tidak begitu peduli dengan impian. Yang penting bisa hidup aja deh. Hidup seperti air, tapi sayangnya kita lupa, air yang mengalir itu selalu mencari tempat terendah. Dan sebagian orang lainnya memiliki impian setinggi langit.

Impian itu bos!

Gue mau pakai pengandaian nih. Ketika kita seorang karyawan dan kita memiliki Bos. Kita tahu Bos selalu cenderung mengatur dan memaksa kita atas apa yang harus kita lakukan dan kerjakan untuk mencapai suatu tujuan. Sebagai karyawan kita pasti akan melakukan perintah semaksimal mungkin dong! Sama nih dengan impian. Saat kita menginginkan sesuatu maka impian itulah yang memaksa kita untuk rela menguras tenaga, waktu dan pikiran hanya untuk mewujudkannya.

Bukan rahasia umum lagi kalau orang-orang lebih suka dengan yang gratisan. Gratis apa bayar? Gue sih gratis. Hehehe. Bermimpi itu gratis guys. Jadi jangan pernah tanggung-tanggung untuk bermimpi.

Bicara soal impian sepertinya nggak bakal ada habisnya. Ketika gue bisa nulis 100 impian, gue percaya kalian bisa nulis 1000 impian. Trust me.

Cerita sedikit deh..


Awal bulan Juli kemarin gue habis nulis 100 impian yang mana berkaitan dengan finansial, relationship, sosial, intelektual, kesehatan dan spiritual. Gue tulis 100 impian itu di kertas. Sebenernya nggak pernah terpikir untuk menuangkan impian-impian yang selama ini gue simpan ke dalam tulisan. Tapi ternyata gue diberi kesempatan buat nulis itu semua. Lewat istilah "Tugas" gue benar-benar menulis aksara-aksara kecil yang berisi banyak impian. Sempat mikir apa iya sih akan sampai seratus, tapi ternyata gue tahu kalau impian gue banyak juga ya, hehe.

Selain harus menulis 100 impian, tugas lainnya yaitu menulis goals menjadi reseller. By the way ceritanya sekarang gue lagi menjadi reseller kado unik handmade gitu. Rules nya harus ditulis tangan dan minimal tujuh halaman kertas HVS, luar biasa!
Ada waktu sekitar enam hari untuk mengerjakan, dan gue hanya pakai hari terakhir. Sombong dan malas itu beda tipis guys. Jujur awalnya gue nulis impian-impian itu untuk sekedar tugas yang harus selesaikan, tapi makin jauh menulis gue makin merasa seperti terharu sendiri dengan apa yang gue tulis. Banyak harapan dari setiap huruf yang disusun dan gue meniknati menulis semuanya hingga akhir.

Temen gue sempat mengatakan sesuatu "impian itu diwujudkan, bukan di tulis"

Hmmmmm...

Bener sih, tapi nggak ada yang salah dari nulis impian, menurut gue. Sambil menulis katanya akan mempengaruhi alam bawah sadar. Gue bersyukur kepada Allah, punya impian yang banyak dan nambah mulu impiannya. Bisa dikatakan impian yang satu belum selesai, sudah nambah lagi impian yang lain. Bukan hanya bermimpi terus, bekal untuk mengembangkan dan mewujudkan itu semua sedang di siapkan. Impian-impiam itu terus diperjuangkan dan akan diwujudkan. Begitu sambil mengejar impian yang lain. Intinya ikhtiar, doa, dan tawakal. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah telah berkehendak, kan? InsyaAllah.

Cerita lagi nggak apa ya?

Jadi gue punya impian yang kala itu gue tulis di tugas 100 impian di bidang finansial. Salah satu dari impian gue itu punya brand clothing sendiri. Targetnya di umur 19 tahun atau 20 tahun gue udah harus merealisasikan impian gue itu sih. Gue bahkan udah kepikiran pakai Chindo buat jadi nama brand usaha clothing gue hehe

Pernah suatu waktu gue cerita ke mama soal impian gue itu, responnya begini.

"Bisnis yang biasa-biasa aja dulu, yang penting untungnya sudah lumayan."

Kata mama sambil senyum. Maksud mama gue disini bisnis yang biasa-biasa itu seperti jadi reseller, jadi nggak perlu butuh modal banyak, begitu. Gue cengar cengir, gue paham sih kenapa mama gue bilang begitu, modal untuk usaha clothing brand sendiri atau yang katanya self-manufactured itu gak sedikit, mulai dari beli bahan, jasa menjahit, dll. Tapi gue tetep kekeh dong sama impian gue. Mendadak gue jadi suka kata "pokoknya". Gue pingin milih dan beli bahan yang gue suka, milih warna yang gue suka, lalu mendesain sendiri baju yang akan gue pasarkan. Gue ngebayangin aja sudah senang banget. Dunno, kayanya bakal asik banget terjun di dunia yang seperti itu. Kalau bisa menjadi lebih dari sekedar reseller kenapa nggak? Gue mau jadi ownernya. Gue nggak mau jadi yang biasa-biasa aja.

Tapi terlepas dari itu semua, bukan berarti gue mengeyampingkan saran mama gue. Kalau gue keras kepala dengan impian gue, gue juga bakal keras kepala untuk terus nabung buat modal usaha impian gue nanti. Jadi, seimbang kan?

Buat kalian, gue percaya kalian punya 1000 impian yang spekta. Lebih menakjubkan dari sekedar pingin punya brand clothing sendiri, gue yakin. Jadi, jangan patahin mimpi-mimpi itu. Gue percaya kalian mampu, apapun itu, kejar. Apapun itu, wujudkan. Kalian bisa lakukan lebih dari yang bisa kalian lakukan sekarang. Mulai untuk mempersiapkan bekal buat mewujudkan mimpi-mimpi itu dari sekarang. Bukan impian yang harus nunggu kita, tapi kita yang harus berjalan kesana. Kalau kita sendiri nggak percaya dengan impian kita, terus siapa yang mau percaya?

Sekalipun banyak orang yang meremehkan atau meragukan kemampuan kita, tetap tenang dan fokus pada mimpi itu. Belajar buat nggak melulu mendengarkan kata orang. Yakin kalau sukses itu hanya perkara waktu. Entah sekarang, besok, nanti. Intinya selama mau berusaha dan berdoa, mimpi nggak hanya ada di kepala. Suatu hari nanti, apa yang diimpikan itu bakal benar-benar sampai dalam genggaman. Entah sebahagia apa tapi di saat itu, kita bakal tahu kalau kita mampu berjuang tanpa mau menyerah dan dikalahkan keadaan.

We was born to be awesome. Jangan mau jadi yang biasa-biasa aja.

Selamat berjuang!❤

30 Juli 2017

Love your self


"Badannya bagus ya, body goals banget. Da aku mah apa.”

“Dia pintar banget ya? Lulus kuliahnya cepat. Nggak kayak aku.”

“Senang ya pasti jadi dia. Pintar, cantik lagi.”

"Kalau putih mak enak ya, kaya dia"

"Muka nya judes banget sih heran"

Seberapa sering sih lo dengar hal-hal sejenis kalimat diatas diucapkan sama orang di sekitar lo? Atau seberapa sering diri lo sendiri mengucapkan kata-kata tersebut?

Tulisan ini terinspirasi dari opini kak gita, pengalaman gue dan orang-orang di sekitar gue. Ceritanya gue mau nyoba nulis yang agak bener.

Manusia itu membuat terlalu banyak penilaian. Kita menilai diri kita sendiri atau orang lain yang begini lah begitu lah. Selain mencari keburukan diri sendiri, kita juga senang sekali mencari keburukan orang lain. Kadang nggak kenal, tapi hanya ketemu sepintas di jalan pun kita sempat saja memberi penilaian. Tiba-tiba kita menjadi orang yang cekatan buat hal itu.

Nggak sedikit orang yang terlalu sibuk mengurusi kecantikan luar untuk mendapatkan pengakuan. Perilaku itu timbul karena dorongan dari tingkah manusia yang suka menilai. Kita jadi lupa kalau kita yang mengatur dunia kita, bukan dunia yang mengatur kita. Gue pun sempat ngerasa jadi seperti budak dunia gitu, lho.

Terus pengakuan yang seperti apa?
Standar cantik itu sebenernya gimana, sih?

Kita tau standar itu dibuat untuk yang terlihat mata, jadi ke sanalah seluruh perhatian tercurah. Menurut lo siapa yang buat standar itu? Lingkungan dan diri kita sendiri. Kulit putih cerah merona, rambut lurus, badan langsing, hidung mancung. Kebanyakan orang menaruh standar disitu. Tapi kadang selalu saja ada orang dengan kulit cerah justru jadi ngerasa pucat, ngerasa kaya mayat, jidat kekecilan, jidat kelebaran. Terus jidat yang "ideal" itu seperti apa? Jidat yang sedang? Whut.. apanya yang standar kalau manusia saja tidak pernah puas.

Kita hanya memperhatikan omongan orang, lupa memperhatikan keinginan diri sendiri. Kenapa harus mengikuti selera orang lain? Kita jadi seolah-olah hidup untuk membahagiakan orang lain. Selama kita belum bisa menerima diri kita sendiri, kita bakal selalu merasa ada yang kurang oke. Karena rasa cantik itu nggak muncul dari pengakuan orang, melainkan dari dalam dirimu sendiri.

Banyak orang ingin mudah dicintai dan dihargai orang lain, tapi kadang lupa kalo semua harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

Bener kata kak gita, kalau kita bertemu sama seseorang, yang pertama kali kita lakukan adalah menilai dirinya dan mencari celanya. Yaaaaa, entah itu muka ataupun bagian fisik lainnya. Pipinya terlalu chubby lah, jidatnya lebar banget, alisnya kaya sinchan lah.

Kalau kalian pernah atau sedang baca komik webtoon yang judulnya I am Gangnam Beauty, kalian pasti tau kalau tokoh Mirae pada awal cerita selalu menilai seseorang dengan standar kecantikan yang ada di lingkungan mereka. 80, 75, 96, pakai angka!

Dulu pun gue manusia yang sering memiliki pikiran buruk. Entah itu ke diri gue maupun ke orang lain. Kadang gue melihat diri gue di kaca, yang gue liat adalah betapa tidak idealnya badan gue, kurus banget dan gue menyesali kenapa kulit wajah gue gak bisa normal aja kaya orang-orang pada umumnya tanpa masalah serius sehat cerah sentosa luar biasa.

Terus apa yang gue dapat? ya gue nggak pernah bersyukur. Gue nggak pernah menghargai diri gue sendiri. Gue nggak pernah mengapresiasi apa yang diri gue lakukan dan apa yang gue punya. Pikiran gue sempit dan keruh gitu sih. Gue gak sadar kenapa ketika gue melihat diri gue dikaca yang terlintas cuma pikiran ngerasa "kok gini, kok gitu, kenapa sih kok...."

Setiap kali ketemu orang, selalu aja ketemu kurangnya. Begitu pula dengan apapun yang orang lain kerjakan dan hasilkan. Padahal gue sebenernya nggak tahu apa-apa di balik yang gue lihat. Mungkin aja ada kerja keras, susah payah dan banyak duka yang dia rasakan dan dengan mudahnya gue cuma menilai apa yang gue lihat.

Nggak tau caranya menghargai diri sendiri, tapi minta dihargai orang lain. Suka mencari kurangnya orang lain. Begitulah. Gue nulis ini sebenernya gue lagi reminder diri gue sendiri kalo gue bener-bener jadi kaya manusia yang sia-sia banget dulu.

Tapi benar, lama-kelamaan gue bosan dengan ketidakbenaran gue memandang segala hal. Gua lelah menjadi budak duniaaaaaaaa. Gue berlatih untuk paling tidak nggak memberi penilaian terhadap apapun, baik di diri gue maupun diri orang lain.

Gue berusaha.

Gue mulai berfikir seperti yasudah lah kalau memang alis gue belah ya belah aja. Kalau memang gue kurus yasudah paling tidak alhamdulilah gue sehat. Itu suatu kenikmatan besar meski bukan badan berisi seperti yang gue damba-dambakan. Kalau memang kulit wajah gue lagi bermasalah, nggak sama dengan warna kulit asli gue yasudah kenapa memusingkan itu. Gue cuma perlu cari solusi supaya warna kulit gue balik. Gue mengurangi untuk memusingkan hal-hal yang tidak perlu dipusingkan. Gue pun menahan diri, gue belajar untuk tidak menilai atau mengusuri orang lain.

Jadi, berawal dari mencintai diri sendiri dengan baik, membuat kita jadi pribadi yang lebih rendah hati dalam menilai orang lain. Kalau gue dan setiap orang mampu menghargai kekurangan dan kelebihan diri sendiri dengan baik, maka bakal mudah untuk menghargai  kekurangan dan kelebihan orang lain.

Jangan menjadi orang yang haus akan pengakuan.

Mulailah untuk melihat indahnya dirimu dan hidupmu, bukan segala kurangnya.