18 Juni 2017

Setelah sepuluh bulan

Holaaaaaaaa!
Selain kamu, ternyata nulis juga bikin kangen.

Udah lama nggak nulis kayanya tanya kabar dulu kali ya, kali aja kamu habis disakitin. Jadi apa kabar nih? Udah move on?
So guys sorry baru bisa nulis lagi. Entah sibuk atau sok sibuk, intinya gue yang tidak menyempatkan waktu untuk nulis.

Akhirnya gue nulis blog lagi, setelah hampir sepuluh bulan disibukkan dengan kegiatan kuliah. Ellen udah kuliah? Iya guys hehe.
Ternyata jadi mahasiswa itu gini ya, tugasnya bikin makalah, presentasi, jurnal, bikin makalah, presentasi, jurnal, makalah, presentasi, makalah, presentasi, gitu mulu. Belum lagi kalau kating udah bersabda :

"Itu belum apa-apa dek!"

Gue kaya seketika "ok, perjalanan masih panjang:))))"

Well, ternyata kuliah macam di FTV itu benar-benar imajinasi. Jadi jangan berekspektasi berlebih ya. Hangout every day, haha-hihi, kantung mata bercahaya, ketemu cowo baik kayanya oke nih terus langsung jadian, itu mitos! Yap, mulus banget kuliah lu kaya kulitnya raisa.

Bilang begitu bukan berarti begitu buruk juga. Ada saatnya kita bakal ngerasa "ya ampun tugasnya banyak banget" dan ada saatnya "yes malam ini free!" Trust me.
Itu siklus, gue nggak kuat begadang tapi ada hari dimana gue mata panda. Yup, tuntutan keadaan. Jadi, sudah bukan tempatnya buat leha-leha. Apalagi, menurut gue fakultas gue belum ada apa-apanya dibanding fakultas lain yang mengharuskan laporan ditulis tangan. Laporan bisa sampai puluhan lembar, sampai lambang universitas pun digambar. Proud of them.
Mereka mungkin nggak tau kalau masuk jurusan tsb akan berat tugasnya. Tapi ini soal resiko dan tanggung jawab atas apa yang mereka pilih. Jadi harus cinta!
Kaya aku cinta kamu, akun. Tapi belum banyak.
Oke bicara soal main, gue jarang main ke luar. Tapi tetap bisa menghabiskan waktu dengan teman, wifian misalnya. Btw, gue fakir wifi HAHA download drama korea itu harga mati.

Sebagai anak yang jauh dari orang tua gue udah mengalami fase-fase sakit. Fix nggak enak. Lemes-lemes sendiri, laper mau beli makan tapi mager, gak sanggup bangun dari kasur tapi tugas bejibun. Ya sbenernya tinggal berdua sama papa, tapi gitu beliau kerja dari pagi sampai malam. Pokoknya nggak asik, maka untuk kamu sahabat kos, jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit. Kalo kamu sakit yang nyakitin aku siapa?

Anyway, beberapa hari lalu gue sempat baca salah satu oa yang muncul di timeline kalau tidak salah Student's Latter, dan ngakak so hard.

"Dari : aku 
Untuk : dede emesh yg memenuhi explore instagram ku dengan screenshots hasil sbm 

Pesan : 
Gimana? Seneng ya? Udah siap ospek sebelum subuh? Udah siap osjur? Udah siap kurang tidur? Udah siap revisi jurnal? Udah siap ldko organisasi? 

Udah siap belum?"

WKWKWKWK!!!

Gue mendadak jadi tokoh antagonis disini, seketika ketawa jahat. Tiba-tiba aja flashback ketika subuh-subuh gue udah dikampus buat ospek, bahkan belum masuk subuh. Dan gue nggak tau jurusan gue yang mana dong guys:")
Masih gelap, nggak boleh berisik dan udah pada baris. Jadi mau nggak mau gue asal baris. Syukur hari itu lagi beruntung, pokoknya nggak kena kakak komdis. Gue jadi mikir, sebentar lagi mereka ngerasain juga yang begituan. So, semangat ya adik2!

Finally, september nanti gue udah bukan maba lagi. Pingin ketawa nih. Buat kaos abu-abu gue yang warna lengannya beda, bye. Yaaa, banyak banget yang di dapet selama 2 semester ini. Ternyata lelahnya SMA itu nggak ada apa-apanya. Seriously. Lain waktu gue bakal cerita.

Selamat liburan!
Nulis yang berbobot kapan-kapan ya. Minal aidin wal faidzin!

15 Agustus 2016

Ada Apa Dengan Tujuh Belas-an?

Klik!
Play lagu wajib Hari Merdeka dulu biar semangat, kalau lagu Menangis semalam-Audy nanti galau guys. Sudah ketebak ya kalau saya bakalan bahas soal Hari kemerdekaan negara kita? Tapi ngomong-ngomong hati kamu kapan merdeka nya? Nggg~ skip aja deh nanti dikira jahat.

Merdeka.
Entah sudah berapa banyak lagu dan puisi yang tercipta mengatas namakan kata itu. Entah sudah berapa kali saya diminta berteriak merdeka sambil mengepalkan tangan bareng anggota partai PDIP kala TRY OUT dulu:") Merdeka! Merdekaaaa!
Bentar-bentar merdeka, bentar-bentar di minta berdiri, bentar-bentar teriak lagi. Tapi nggak papa, sebagai pemudi Indonesia juga harus menunjukkan rasa nasionalis nya kan? #asikk

Apa sih yang identik dengan 17 agustus sebagai hari kemerdekaan Indonesia?
Hampir di seluruh penjuru nusantara pasti merayakan kemerdekaan negara kita dengan memasang bendera, patok dan mengadakan lomba-lomba ya. Lomba wajib yang harus ada itu biasanya adalah :
Lomba lari dari kenyataan
Loma bawa gebetan kelereng pakai sendok
Lomba masukin mantan paku ke dalam botol
Lomba panjat yang belum di pinang
Lomba tarik hati gebetan tambang
Loma balap nikah karung

Tapi buat tahun ini dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia ada hal menarik nih di daerah saya, dimana hampir setiap rumah memasang lampu warna warni yang di rekatkan di batang bambu yang panjang dan bentuknya melengkung ke arah jalan. Belum lagi kebanyakan di ujung lampu sengaja dibuat berbentuk bintang, biar ala-ala gitu. Kebayang gak? 






Jadi selain memasang bendera dan memasang patok, kami memasang lampu warna warni ditepi jalan. Lalu saat sudah malam, lampu-lampu akan di nyalakan dan membuat jalan jadi kelihatan indah, terang, warna-warni gitu kaya wig nya janneta janet. #apasihel
Tapi serius, saya suka sekali melihatnya, apalagi karena dicondongkan ke arah jalan jadi saat berjalan di tengah jalan seperti lewat terowongan haha
Walaupun sedikit mengecewakan sih sebab nggak semua rumah memasang lampu tersebut. Entah sebab tidak tertarik, entah sebab tidak sempat, entah sebab belum. Alhasil posisi lampunya kadang rapat juga kadang renggang.

Ceritanya kemarin malam saya jalan-jalan dengan keluarga, motivasi nya sih hanya ingin melihat lampu-lampu itu. Dari hasil observasi kemarin malam di dapati kesimpulan kalau peminat memasang lampu warna-warni tersebut paling banyak adalah masyarakat Dayaasri, Murni Jaya, Simpang PU, dan Kalimiring. Tapi bukan kesimpulan mutlak sih sebab saya cuma jalan-jalan sampai Kalimiring lalu balik lagi ehehe

Sebelumnya saya sempat berfikir apakah kegiatan memasang lampu warna-warni ini adalah usulan dari Pemerintah atau inisiatif masyakarat sendiri, tapi sampai sekarang belum dapat jawabannya. Saya juga sempat mengingat-ingat, sepertinya tahun-tahun lalu memang belum ada acara pasang memasang lampu warna-warni ini. Ini pernyataan hasil mengandalkan ingatan saya ya, takut salah ingat. Tapi kalau soal kamu sih saya ingat benar #eaaaa
Intinya sih, saya sangat mengapresiasi kegiatan para warga yang memasang lampu-lampu di depan rumahnya. Sebab di dalam itu semua ada niatan sebagai bentuk rasa bahagia dan ikut merayakan atas kemerdekaan Indonesia. Kita bisa menunjukkan kebahagian dengan banyak hal kan?

Sekarang sudah H-2 hari kemerdekaan, sebenarnya ingin sekali ikut lomba pada saat 17an nanti, tapi tidak bisa. Padahal saya ingin ikut lomba. Iya, lomba lari dari kenyataan. *langsungplaylagugalau*
Jadi bagaimana di daerahmu merayakan hari kemerdekaan pada 17 Agustus ini? Sama?

Oiya, sebelumnya saya mau mengucapkan selamat hari kemerdekaan Indonesia. Dirgahayu Indonesiaku! Aku sayang Indonesia, kamu juga #eaaaa #gombalterussampemampus

13 Agustus 2016

Kuku kamu panjang?

Selamat pagi.
Selamat hari sabtu, kemarin niatnya mau potong kuku selagi jum'at tapi justru lupa. Kamu nggak ngingetin sih *kodekeras* sekarang sudah sabtu terus nanti malam sudah malam minggu aja. Nggak ada hubungannya sih, nggak tau kalau kita #asikk
Balik soal potong kuku sebenarnya nggak ada telatnya ya, hanya aja Rasulullah menyunahkan kita untuk potong kuku pada hati Jum'at. Kalau yang telat itu kan kamu. Sudah telat buat ngingetin saya potong kuku.
Bicara soal kuku, kuku kalian kaya gimana nih?
Nggak, bukan itu. Bukan bentuk jengkol atau pete seperti yang suka kamu bandingin bareng temen-temen kamu. Bukan:') maksudnya kuku kalian panjang atau pendek?

"Kalau panjang kenapa kalau pendek kenapa?"

Karena kali ini saya mau bahas tentang Islam dan kuku nya. Ini penting. Karena selain berbagi kenangan kita juga perlu berbagi pengetahuan. Ya kan?


Kuku yang cantik dan terawat tentu menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Di zaman sekarang, tidak sedikit wanita muslimah yang memanjangkan kuku. Tujuannya adalah untuk menunjang penampilan dan menambah rasa percaya diri. Sebagian beralasan, karena kuku yang panjang menambah kecantikan. Tapi kalau kamu motivasinya apa nih memanjangkan kuku? Sama seperti jawaban di atas atau punya jawaban sendiri? Seperti supaya kalau nari sembah gak perlu pakai kuku-kuku an lagi, atau untuk garuk-garuk tembok pas liat DP BBM mantan udah foto pacar barunya? Ahhhhh ketaker:D

Namun bagi Umat Islam, ada baiknya mencermati terlebih dahulu sebelum ikut memanjangkan kuku dan menghiasnya. Karena apapun hukum yang diterapkan, memiliki alasan tersendiri untuk diikuti. Lantas apa hukum memanjangkan kuku dalam Islam?
Agama Islam sangat memperhatikan kebersihan umatnya. Termasuk kuku pun, tidak luput dari perhatian agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW ini. Ternyata memanjangkan kuku bertentangan dengan Agama Islam.

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa hukum memanjangkan kuku adalah makruh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Ada lima macam fitrah , yaitu : khitan, mencukur bulu kemaluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Bukhari no. 5891 dan Muslim no. 258)
Dari hadist di atas dapat diketahui bahwa memotong kuku merupakan ajaran para nabi. Hal ini sesuai dengan fitrah manusia yang dijelaskan dalam hadist di atas.

Sebagai bentuk penekanan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan pernah memberi batas waktu kepada para sahabat untuk memotong kuku mereka. Jika lebih dari waktu tersebut, menurut Imam Asy Syaukani dalam Nailul Author maka hukumnya menjadi haram. Hal ini berdasarkan hadist berikut:
Sahabat Anas bin Malik mengatakan, “Kami diberi batasan dalam memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, agar tidak tidak dibiarkan lebih dari 40 hari.” (HR. Muslim 258).
Menurut Imam Nawawi kuku yang panjang berpotensi menjadi sarang penyakit. Tidak hanya itu, meski bersih, kuku juga berpotensi menghalangi air wudhu masuk ke sela-sela kuku sehingga wudhu menjadi tidak sempurna. Namun jika kuku pendek, potensi air wudhu bisa membersihkan bagian jari akan semakin besar. Akan tetapi, semalas-malasnya orang, maksimal kukunya harus dipotong dalam 40 hari.


#UdahPotongAja
Sudah tahu kan sekarang? Kalau saya pribadi sih memang tidak menyukai kuku panjang. Maka dari itu saya tidak pernah memanjangkan kuku, hingga kalau kuku sudah terlihat panjang sedikit rasanya tidak betah ingin cepat-cepat potong kuku. Selain itu, kita juga sudah tahu bahwa kuku yang panjang dapat menjadi tempat yang sempurna untuk kuman-kuman. Tapi ada juga yang bilang kuku yang panjang itu tempat setan bersembunyi wkwk nggak tahu deh. Terlepas dari itu semua kita dapat ambil garis besar kalau diutamakan untuk kuku kita terus pendek. Coba deh beralih jangan garuk tembok pas liat DP mantan foto pacar barunya biar gak perlu memanjangkan kuku lagi kan, langsung ngaji gitu misalnya #mendadaksholeh

Jadi sekarang buat kalian yang kuku nya masih panjang hayu dipotong aja. Apa mau el yang motongin? Ehehe becanda

05 Agustus 2016

Muslimah berhijab tahu rasanya ini

Assalamualaikum.
Alhamdulillah, matahari rupanya habis lihat mantan gebetan jalan bareng pacar barunya. PANAS BANGET. Baru jadi gebatan tapi sudah jadi mantan aja *pukpuk* semangat ya. Tapi hijab mu masih terjaga kan, ukhti?
Ngomong-ngomong soal hijab, berhijab memang suatu kewajiban yang diperintahkan Allah kepada para muslimah. Hanya saja, di balik kecantikan dan keanggunan perempuan pengguna hijab, ada beberapa moment tertentu yang butuh perjuangan ekstra untuk melewatinya. Bukan cuma buat alis aja yang butuh perjuangan:') dan hal ini hanya dirasakan dan hanya dimengerti oleh sesama muslimah berhijab.
Saya juga kadang mengalami beberapa problem selama saya memakai hijab dan buat saya seru. Jadi kali ini saya akan menuliskan apa aja sih hal-hal yang seringkali dirasakan muslimah berhijab itu. 

1. Belang
(n) timbulnya garis kontras pada warna kulit yang semi permanen; antara coklat dan putih, pada sisi kulit yang biasa tertutup oleh hijab dan di sisi lain yang tidak terhijab. Buat yang berhijab pasti ngalamin hal ini deh. Apalagi di negara kita yang pada dasarnya beriklim tropis, terutama daerah tempat tinggal saya, benar-benar faktor pendorong.
Contohnya pada wajah dan pergelangan tangan, ya kan ukhti? Habis panas-panasan misalnya, ketika jilbab dilepas baru belangnya kelihatan jelas di wajah. Tapi ada satu hal, bahwa ketebalan bedak berbanding terbalik dengan kekontrasan belang. Jadi semakin tebal bedak maka semakin rendah ke kontrasan belang di wajah, ini serius. Saya dapat ilmu nya dari pengalaman teman sekelas saya, lucu sih sebenernya coba deh kamu praktekin. Lalu kalau pengalaman teman-teman saya yang jarak antara sekolah dan rumahnya yang jauh sehingga mengaharuskan untuk naik motor, keadaan tidak pakai sarung tangan ketika naik motor saat pulang sekolah ini yang kerap membuat pergelangan tangan menjadi belang. Kalau sudah begitu solusinya bisa pakai krim perawatan kulit, pakai sarung tangan, atau diemin aja. (((((Diemin aja)))) iya, ntar juga rata sendiri. Sama kan kaya kamu, kalau di diemin gebetan ntar juga kamu mundur sendiri.

2. Jarum pentul menghilang
Ternyata selain gebetan, jarum pentul kamu juga bisa hilang ya? Iya, samasama hilang diwaktu yang gak tepat *ketawajahat*
Ayo serius, jadi, oke jarum pentul merupakan sesuatu yang penting buat para muslimah yang berhijab. Penting tapi kadang merepotkan. Mulai dari menyiapkan tempat penyimpanan khusus yang aman agar mudah ditemukan saat diperlukan, atau agar tidak mudah hilang mengingat fungsinya yang urgent namun berukuran minimalis, sampai dengan tanpa sengaja tertusuk oleh ujung jarum yang lancip saat digunakan. Dari kerepotan-kerepotan itu, yang paling repot adalah ketika jarum pentul menghilang. Tapi sebagai manusia yang tidak luput dari salah dan lupa, kita lebih baik mencari saja daripada mengeluh. Pengalaman saya biasanya momen ketika saya ingin membenarkan jilbab. Saat saya rasa posisi jilbab sudah pas dan nyaman maka saya mengambil jarum pentul yang tadi sebelumnya saya lepas, dan tentu saja seperti biasa dia menghilang. Tidak ada dimeja, tidak ada dibawah tumpukan buku, cari cari dilantai siapa tahu terjatuh ke lantai tapi tidak ada juga. Disaat saya mulai putus aja dengan satu tangan terus memegangi jilbab ternyata saya baru sadar jarum pentul itu saya tusukkan di seragam saya. Moment apa ini:'(
Saran buat ukhti-ukhti supaya tidak terjebak ke dalam momen jarum menghilang, bisa membawa jarum cadangan di tas ya. Tapi bagusnya sekarang udah banyak orang-orang yang berinovasi model kerudung tanpa peniti, tinggal lempar sana-sini, tumpuk sana sini kelar udah gitu.

3. Galau rambut basah
Iya banget gak si, ukhti? apalagi saat sedang buru-buru mau berangkat sekolah terus habis keramas rambut masih basah, mau langsung dipakaikan jilbab takut ntar bau tapi kalau telat ntar suruh jawab soal matematika sama bu aster wkwk nggak, ini sih keresahan pribadi. Tentu ini agak sedikit bertentangan ya dengan hukum pengeringan benda basah yang menyebutkan bahwa benda basah harus diperlebar permukaannya agar cepat kering, bukan malah ditutup. Kalau sudah begini solusinya keramas nya jauh jauh sebelum mau ada rencana pergi atau berangkat sekolah biar sempat ngeringin rambut.

4. Gupek sendiri kalau ada orang tiba-tiba
Gimana gak heboh kalau ada tamu tiba-tiba, apalagi kalau tamu nya itu gebetan *eh maksudnya apalagi kalo tamunya bukan muhrim. Kalau saya iya, apalagi siang bolong habis jam olahraga lagi duduk di kelas bersama ukhti-ukhti yang lain dengan sebagian akan ada yang melepas jilbabnya ataupun memasangnya secara ala kadarnya saja. Lalu semilir angin dari buku yang saya jadikan kipas, tenang, tapi semua itu berubah setelah suara ketukan pintu terdengar. Mampus. Maka semua akan langsung heboh memakai jilbabnya. Kan aurat.

5. Jilbab terbuka
Cuaca pun terkadang kurang ‘ramah’ terhadap para muslimah berhijab. Salah satu contohnya ketika sedang asik berjalan kaki dan tiba-tiba saja angin berhembus kencang menyingkap jilbab yang dipakai. Tentu saja akan membuat sedikit gugup dan kerepotan memegangi jilbabnya agar tidak terlepas dan agar rambutnya jangan sampai terlihat. Huft.
Kalau pengalaman saya, ketika saya memakai jilbab paris pasti saya membutuhkan dua jarum pentul. Satu untuk dibagian bawah dagu sepertia biasa dan satunya lagi untuk menghubungkan kedua bagian jilbab agar tidak terbuka ketika terkena angin, ketika kita sedang berjalan atau juga sedang naik motor. Ada bayangan kan?

6. Rambut bayi
Kalau ini dulu saya dan teman-teman saya menyebutnya rambut bayi nggak tau deh sebutan benarnya apa hehehe. Tau kan yang dimaksud? Itu lho, rambut-rambut pendek yang ada di dahi. Jadi, masalah bagi muslimah berhijab anak rambut ini masih suka keluar keluar, akhirnya harus berkali kali menyapukan tangan kejidat agar anak rambut rapih kembali. Mungkin solusi nya dengan pakai daleman jilbab/ciput ya, ukhti.

Anyway, terlepas dari semua (suka) duka dalam berhijab, hijab merupakan identitas kami sebagai kaum muslimah dan tentu saja kami bangga sepenuhnya dengan berhijab. Jadi, tulisan ini bukan ditulis sebagai keluhan tapi untuk berbagi pengalaman. Seru gak? Kalau seru makanya cobain berhijab juga biar tahu rasanya hehe #sekaliandakwah
Kalau saya sih sering sekali merasakan hal-hal di atas. Kalau ukhti-ukhti yang lain?

29 Juli 2016

Kuliah?


Bagi anak sma yang lulus tahun 2016 pasti sudah merasakan bagaimana rasanya berjuang. Jadi gimana rasanya memperjuangkan masa depan? Buat saya pribadi lebih susah daripada memperjuangkan hubungan sih *eh
Sebenernya topik yang mau saya bahas ini sudah hampir basi. Tapi nggak papa, seenggaknya nggak lebih basi dari gombalan gebetan kamu:p
Beda kepala beda pendapat, setuju gak sih? Untuk kuliah dalam memilih program studi setiap orang punya pertimbangan masing-masing. Sebelum kesitu deh, hidup selalu menuntut kita untuk memilih ya, antara ptn dan pts saja contohnya.

Prospek kerja atau minat kita?
Itu pertanyaan paling bimbang buat anak sma, lebih bimbang daripada nentuin buat move on atau balikan sama mantan ehehe becanda. (Itu yang masih ngarepin mantan jangan baper)

"Aku suka gambar, tapi prospek kerja nya disini susah..."
"Gimana ya, aku pingin kedoteran tapi aku gak berani sama bedah-bedah begitu."
"Aku pilih prodi x aja lah yang gak banyak peminatnya. Gak suka si sebenernya"
"Fix ambil sastra, aku minatnya disitu."

Seperti yang saya bilang tadi, setiap orang punya pemikiran sendiri. Mereka salah? Menurut saya nggak, nggak ada yang salah, banyak hal-hal yang pasti sudah dipertimbangkan sebelum mereka memutuskan. 


Selain cinta, keyakinan juga merupakan sumber kekuatan yang besar #asikkkk. Jika kamu lebih memilih program studi yang memang merupakan minatmu dan kamu yakin, lalu dimana masalahnya? Kamu minat, dan kamu yakin, kamu akan berkembang di dalamnya lalu tumbuh menjadi mahasiswa yang berkualitas di bidang nya. Maka seharusnya gak ada alasan buat gak dapat pekerjaan yang kata mereka tidak luas itu. Begitu juga, hanya karena kamu kuliah di bidang yang bukan minatmu bukan berarti kuliahmu akan berantakan.
"Apa ada yang bisa jamin kedua hal yang dapat menjadi kemungkinan itu?" 
Nggak ada yang bisa jamin. Tapi menurut saya, semuanya bergantung pada keyakinan yang kita tanamkan pada diri dan campur tangan Allah. Nggak ada yang nggak mungkin jika Allah sudah berkehendak, kan?

Ngikutin gengsi?
Jangan sempit gitu geh (ex: pingin masuk kedokteran biar jadi menantu idaman para mama😚 Nggak, example nya jangan diseriusin)
Kenapa salah? Karena dari menuruti gengsi kita sampai melewatkan dan mengenyampingkan hal-hal penting, contohnya kemampuan biaya.
Kuliah bukan sekedar untuk menuruti gengsi, kan? Memang setiap masing-masing orang punyak hak atas landasan, niat dan motivasi berbeda dalam hal itu. Tapi kan sayang kalau untuk menuruti gengsi aja:(

Cerita sedikit deh,


Kronologisnya saya murtad dua kali, pertama ketika saya penjurusan masuk SMA lalu yang kedua ketika akan kuliah. Kemudian melalui banyak pertimbangan saya ambil keputusan untuk melepas cita-cita saya dari kecil yang bahkan belum pernah saya coba, saya putuskan untuk memilih prodi yang sebenarnya tidak pernah terlintas difikiran saya sebelumnya. Kisah berlanjut ketika saya ditolak PTN dua kali (rasanya lebih sakit daripada ditolak gebetan, serius) keadaan seperti ini mengharuskan saya untuk bersabar lagi, dan diminta berjuang sekali lagi. Bohong kalau saya bilang saya nggak sedih, saya sedih. Tapi saya tahu sedih aja nggak bisa buat saya keterima di PTN yang saya inginkan. Sedih berlama-lama itu sia-sia, catet. Nggak tau sih kalo nungguin dia sia-sia atau nggak ehehe.

Sempat saya mengeluh ke kakak saya ketika saya ditolak, tapi dia gak membenarkan itu katanya "jalan itu bisa lewat mana aja, biasa kaya gitu tu."

"Setiap orang punya jatah gagal, habiskan jatah gagalmu ketika kamu masih muda - dahlan iskan"

Nggak tahu gimana pembaca menerima dari apa yang saya tulis, tapi intinya dari pengalaman ini saya bisa belajar banyak hal. Belajar bersabar, belajar lillah, belajar menerima dan belajar mengerti kalo setiap orang punya rejeki masing-masing. Jadi setuju nggak kalau saya bilang dari setiap hal buruk selalu ada hal baik di dalamnya?

Soon saya bakal cerita kalau saya sudah masuk ke perguruan tinggi ya:)