14 Agustus 2017

Penilaian

Bicara soal fisik, di tulisan gue sebelumnya gue sempat menyinggung soal beauty standart. Gue setuju bahwa worth perempuan tidak dilihat dari fisik semata. Begitu juga dengan cowo.

So, yea... mangga saling mengeluarkan opini.

Gue kurang menghargai orang yang langsung nge-cut orang lain hanya karena fisiknya. Entah untuk sebagai teman, partner kerja, atau pasangan, di mata gue, fisik yang oke itu nomer ke sekian.

Sampai sini kayanya sudah ada yang mulai berpikir kayanya gue omdo banget gitu lho.

"Nggak mungkin deh, siapa sih yang nggak suka sama yang cakep?"

Oke, oke.
Di belahan dunia manapun, kita nggak bisa melawan hukum alam yang satu ini, alias pasti melihat fisik. Tapi beda ya antara melihat fisik dan memuja fisik. Nah soal fisik ini relatif. Nggak bisa cantik itu didefinisikan dengan kulit putih, mancung, dagu lancip, pipi tirus dsb. Atau ganteng itu beralis tebal, mancung, wajah berstruktur, dll. Pokoknya tergantung persepsi yang melihat.

Jadi bukan rahasia umum kalau ketemu dengan seseorang yang kita nilai duluan adalah fisik. Gue nggak menyanggah, karena gue juga begitu. Bedanya sekarang gue belajar menahan diri untuk melihat-lihat atau mencari-cari kekurangannya, dalam konteks fisik ya. Pada intinya yang ingin gue utarakan disini adalah bertahan atau tidak hubungan yang kita jalin dengan orang lain itu bukan fisik yang menentukan, menurut gue.

Gue mau ambil contoh lain dari yang dekat-dekat aja. Nggak sedikit anak-anak muda SMA mulai dari yang biasa aja sampai yang asik, ketika semasa sekolah punya temen-temen deket. You know lah sebagian menyebutnya "geng", tapi klimaksnya hanya karena beda kelas mereka BUBAR. Yaudah sampai situ aja.

Kenapa?

Jawabannya, seleksi alam. Lebih dari sekedar penilaian fisik, tapi soal isi dari dalam diri.

Gue serius, ada orang yang cenderung lebih menyukai untuk berteman dengan yang cantik. Tapi pertemanan semacam itu nggak akan bertahan lama, menurut gue. Mereka yang berteman mengatasnamakan fisik, pada akhirnya tetap mencari seseorang yang benar-benar mengerti. Yakni mereka yang menerima apa adanya, nggak hanya hadir saat suka tapi saat duka juga ada. Mereka yang nggak meninggalkan di momen tergelap dalam hidup, mereka yang dengan gigih mendukung setiap dihadang masalah.

Bagaimanapun rupa nya, cantik, ganteng, bagus, sedang, biasa aja, biasa banget kalau lo nggak menemukan kenyamanan dan kecocokan dengan mereka, nggak lanjut.

Apasih pentingnya pengakuan kalau lo bisa dapet teman murni?

Gue paham kalau setiap orang berhak menentukan pilihannya sendiri. Terlepas apa dasar seseorang dalam memilih teman, partner dan pasangan. Gue nggak bisa nyuruh-nyuruh orang lain harus sama dengan cara pandang gue. Makanya disini gue ngajak lo buat ngelihat dari cara pandang yang berbeda. Siapa tahu cara pandang kita berbeda. Jadi asik, kan?

Gue pribadi menghargai apa isi dari orang lain itu sendiri. Pembawaan, isi kepala, isi hati. Jiwa yang jujur, hati yang baik, empati tinggi, wawasan yang luas, carring, loving, acceptance.

Itu semua lebih penting dari sekedar wajah cakep. Value seseorang itu nggak dinilai hanya dari wajah.

Gue pribadi nggak mau ngeskip kualitas-kualitas itu cuma karena fisik coy. Kalau dapat yang cakep macam zayn malik yaaa berarti rejeki. Bonus!

Hehehe.

Nah, kalau terus-terusan menomersatukan fisik, bisa aja lo kehilangan cewe atau cowo yang super valueable hanya karena kekompleksan lo tentang fisik. Pilih-pilih temen atau pasangan itu sah-sah aja. Tapi dasar yang lo pakai dalam memilih aja yang kadang jatuhnya jadi diskriminasi.

So, ayo dong, lebih menghargai kualitas diri manusia. Baik itu perempuan atau laki-laki. Saatnya kita menjadikan karakter sebagai kriteria nomor satu untuk dijadikan teman, pasangan, partner kerja dan sebagainya. Merdeka!

Yaudah deh gitu aja, daaaa.

01 Agustus 2017

Nulis 100 Impian

"Bermimpilah setinggi langit, sekalipun jatuh, kamu akan jatuh diantara bintang-bintang"

Sudah ciamik belum nih pembukanya?
Anyway, kadang kita butuh quotes buat naikin percaya diri atau sekedar menghibur diri.

Kita ke pengertian dulu. Definisi impian secara sederhana adalah sebuah hasrat yang benar-benar kita inginkan, dan apapun kondisinya harus terwujud.

Apa sih pentingnya sebuah impian?

Bagi sebagian orang, mereka tidak begitu peduli dengan impian. Yang penting bisa hidup aja deh. Hidup seperti air, tapi sayangnya kita lupa, air yang mengalir itu selalu mencari tempat terendah. Lalu sebagian orang lainnya memiliki impian setinggi langit.

Oke, impian itu bos!

Gue mau pakai pengandaian nih.
Ketika kita seorang karyawan dan kita memiliki Bos. Kita tahu Bos selalu cenderung mengatur dan memaksa kita atas apa yang harus kita lakukan dan kerjakan untuk mencapai suatu tujuan. Sebagai karyawan kita pasti akan melakukan perintah semaksimal mungkin dong! Sama nih dengan impian. Saat kita menginginkan sesuatu maka impian itulah yang memaksa kita untuk rela menguras tenaga, waktu dan pikiran hanya untuk mewujudkannya.

Bukan rahasia umum lagi kalau orang-orang lebih suka dengan yang gratisan. Gratis apa bayar? Gue sih gratis. Hehehe. Bermimpi itu gratis guys. Jadi jangan pernah tanggung-tanggung untuk bermimpi. Sip!

Bicara soal impian sepertinya nggak bakal ada habisnya. Ketika gue bisa nulis 100 impian, gue percaya kalian bisa nulis 1000 impian. Trust me.

Cerita sedikit deh..

Awal bulan Juli kemarin gue habis nulis 100 impian yang mana berkaitan dengan finansial, relationship, sosial, intelektual, kesehatan dan spiritual. Gue tulis 100 impian itu di kertas. Sebenernya nggak pernah terpikir untuk menuangkan impian-impian yang selama ini gue simpan ke dalam tulisan. Tapi ternyata gue diberi kesempatan buat nulis itu semua. Lewat istilah "Tugas" gue benar-benar menulis aksara-aksara kecil yang berisi banyak impian. Sempat mikir apa iya sih akan sampai seratus, tapi ternyata gue tahu kalau impian gue banyak juga ya, hehe.

Selain harus menulis 100 impian, tugas lainnya yaitu menulis goals menjadi reseller. By the way ceritanya sekarang gue lagi menjadi reseller kado unik handmade gitu. Rules nya harus ditulis tangan dan minimal tujuh halaman kertas HVS, luar biasa!
Ada waktu sekitar enam hari untuk mengerjakan, dan gue hanya pakai hari terakhir. Sombong dan malas itu beda tipis guys. Jujur awalnya gue nulis impian-impian itu untuk sekedar tugas yang harus selesaikan, tapi makin jauh menulis gue makin merasa seperti terharu sendiri dengan apa yang gue tulis. Banyak harapan dari setiap huruf yang disusun dan gue meniknati menulis semuanya hingga akhir.

Temen gue sempat mengatakan sesuatu "impian itu diwujudkan, bukan di tulis"

Hmmmmm...

Bener sih, tapi nggak ada yang salah dari nulis impian, menurut gue. Sambil menulis katanya akan mempengaruhi alam bawah sadar. Gue bersyukur kepada Allah, punya impian yang banyak dan nambah mulu impiannya. Bisa dikatakan impian yang satu belum selesai, sudah nambah lagi impian yang lain. Bukan hanya bermimpi terus, bekal untuk mengembangkan dan mewujudkan itu semua sedang di siapkan. Impian-impiam itu terus diperjuangkan dan akan diwujudkan. Begitu sambil mengejar impian yang lain. Intinya ikhtiar, doa, dan tawakal. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah telah berkehendak, kan? InsyaAllah.

Cerita lagi nggak apa ya?

Jadi gue punya impian yang kala itu gue tulis di tugas 100 impian di bidang finansial. Salah satu dari impian gue itu punya brand clothing sendiri. Targetnya di umur 19 tahun atau 20 tahun gue udah harus merealisasikan impian gue itu sih. Gue bahkan udah kepikiran pakai Chindo buat jadi nama brand usaha clothing gue hehe

Pernah suatu waktu gue cerita ke mama soal impian gue itu, responnya begini.

"Bisnis yang biasa-biasa aja dulu, yang penting untungnya sudah lumayan."

Kata mama sambil senyum. Maksud mama gue disini bisnis yang biasa-biasa itu seperti jadi reseller, jadi nggak perlu butuh modal banyak, begitu. Gue cengar cengir, gue paham sih kenapa mama gue bilang begitu, modal untuk usaha clothing brand sendiri atau yang katanya self-manufactured itu gak sedikit, mulai dari beli bahan, jasa menjahit, dll. Tapi gue tetep kekeh dong sama impian gue. Mendadak gue jadi suka kata "pokoknya". Gue pingin milih dan beli bahan yang gue suka, milih warna yang gue suka, lalu mendesain sendiri baju yang akan gue pasarkan. Gue ngebayangin aja sudah senang banget. Dunno, kayanya bakal asik banget terjun di dunia yang seperti itu. Kalau bisa menjadi lebih dari sekedar reseller kenapa nggak? Gue mau jadi ownernya. Gue nggak mau jadi yang biasa-biasa aja.

Tapi terlepas dari itu semua, bukan berarti gue mengeyampingkan saran mama gue. Kalau gue keras kepala dengan impian gue, gue juga bakal keras kepala untuk terus nabung buat modal usaha impian gue nanti. Jadi, seimbang kan?

Buat kalian, gue percaya kalian punya 1000 impian yang spekta. Lebih menakjubkan dari sekedar pingin punya brand clothing sendiri, gue yakin. Jadi, jangan patahin mimpi-mimpi itu. Gue percaya kalian mampu, apapun itu, kejar. Apapun itu, wujudkan. Kalian bisa lakukan lebih dari yang bisa kalian lakukan sekarang. Mulai untuk mempersiapkan bekal buat mewujudkan mimpi-mimpi itu dari sekarang. Bukan impian yang harus nunggu kita, tapi kita yang harus berjalan kesana. Kalau kita sendiri nggak percaya dengan impian kita, terus siapa yang mau percaya?

Sekalipun banyak orang yang meremehkan atau meragukan kemampuan kita, tetap tenang dan fokus pada mimpi itu. Belajar buat nggak melulu mendengarkan kata orang. Yakin kalau sukses itu hanya perkara waktu. Entah sekarang, besok, nanti. Intinya selama mau berusaha dan berdoa, mimpi nggak hanya ada di kepala. Suatu hari nanti, apa yang diimpikan itu bakal benar-benar sampai dalam genggaman. Entah sebahagia apa tapi di saat itu, kita bakal tahu kalau kita mampu berjuang tanpa mau menyerah dan dikalahkan keadaan.

We was born to be awesome. Jangan mau jadi yang biasa-biasa aja.

Selamat berjuang!❤

30 Juli 2017

Love your self

"Badannya bagus ya, body goals banget. Da aku mah apa.”

“Dia pintar banget ya? Lulus kuliahnya cepat. Nggak kayak aku.”

“Senang ya pasti jadi dia. Pintar, cantik lagi.”

"Kalau putih mak enak ya, kaya dia"

"Muka nya judes banget sih heran"

Seberapa sering sih kalian dengar hal-hal sejenis kalimat diatas diucapkan sama orang di sekitar kalian? Atau seberapa sering diri kalian sendiri mengucapkan kata-kata tersebut?

Tulisan ini terinspirasi dari opini kak gita, pengalaman gue dan orang-orang di sekitar gue. Ceritanya gue mau nyoba nulis yang agak bener.

Manusia itu membuat terlalu banyak penilaian. Kita menilai diri kita sendiri atau orang lain yang begini lah begitu lah. Selain mencari keburukan diri sendiri, kita juga senang sekali mencari keburukan orang lain. Kadang nggak kenal, tapi hanya ketemu sepintas di jalan pun kita sempat saja memberi penilaian. Tiba-tiba kita menjadi orang yang cekatan buat hal itu.

Nggak sedikit orang yang terlalu sibuk mengurusi kecantikan luar untuk mendapatkan pengakuan. Hal ini juga timbul karena dorongan dari tingkah manusia yang suka menilai. Kita jadi lupa kalau kita yang mengatur dunia kita, bukan dunia yang mengatur kita. Gue pun sempat ngerasa jadi seperti budak dunia gitu, lho.

Terus pengakuan yang seperti apa? Standar cantik itu sebenernya gimana, sih?
Kita tau standar itu dibuat untuk yang terlihat mata, jadi ke sanalah seluruh perhatian tercurah. Kulit putih cerah merona, rambut lurus, badan langsing, hidung mancung. Kebanyakan orang menaruh standar disitu.
Tapi kadang selalu saja ada orang dengan kulit cerah justru jadi ngerasa pucat, ngerasa kaya mayat, jidat kekecilan, jidat kelebaran. Terus jidat yang "ideal" itu seperti apa? Jidat yang sedang? Whut.. apanya yang standar kalau manusia saja tidak pernah puas.

Kita hanya memperhatikan omongan orang, lupa memperhatikan keinginan diri sendiri. Kenapa harus mengikuti selera orang lain? Kita menjadi seolah-olah hidup untuk membahagiakan orang lain.
Selama kita belum bisa menerima diri kita sendiri, kita bakal selalu merasa ada yang kurang oke. Karena rasa cantik itu nggak muncul dari pengakuan orang, melainkan dari dalam dirimu sendiri.

Banyak orang ingin mudah dicintai dan dihargai orang lain, tapi kadang lupa kalo semua harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

Bener kata kak gita, kalau kita bertemu sama seseorang, yang pertama kali kita lakukan adalah menilai dirinya dan mencari celanya. Yaaaaa, entah itu muka ataupun bagian fisik lainnya. Pipinya terlalu chubby lah, jidatnya lebar banget, alisnya kaya sinchan lah. Kadang habis itu lanjut dengan menilai hidupnya. Budak dunia banget nggak, sih?
Kalau kalian pernah atau sedang baca komik webtoon yang judulnya Gangnam Beauty, kalian pasti tau kalau tokoh Mirae selalu menilai seseorang dengan standar kecantikan yang lingkungan mereka sepakati. 80, 75, 96, pakai angka!

Dulu pun gue manusia yang sering memiliki pikiran buruk. Entah itu ke diri gue maupun ke orang lain. Kadang gue melihat diri gue di kaca, yang gue liat adalah betapa tidak idealnya badan gue, kurus banget dan gue menyesali kenapa kulit wajah gue gak bisa normal aja kaya orang-orang pada umumnya tanpa masalah serius sehat cerah sentosa luar biasa.

Terus apa yang gue dapat? ya gue nggak pernah bersyukur. Gue nggak pernah menghargai diri gue sendiri. Gue nggak pernah mengapresiasi apa yang diri gue lakukan dan apa yang gue punya. Pikiran gue sempit dan keruh gitu sih. Gue gak sadar kenapa ketika gue melihat diri gue dikaca yang terlintas cuma pikiran ngerasa "kok gini, kok gitu, kenapa sih kok...."

Terus ternyata orang yang nggak menghargai diri sendiri biasanya juga tidak menghargai orang lain. Setiap kali ketemu orang, selalu aja ketemu kurangnya. Begitu pula dengan apapun yang orang lain kerjakan dan hasilkan. Pasti gue cari kurangnya. Padahal gue sebenernya nggak tahu apa-apa di balik yang gue lihat. Mungkin aja ada kerja keras, susah payah dan banyak duka yang dia rasakan dan dengan mudahnya gue cuma menilai apa yang gue lihat.

Nggak tau caranya menghargai diri sendiri, tapi minta dihargai orang lain. Suka mencari kurangnya orang lain. Begitulah. Gue nulis ini sebenernya gue lagi reminder diri gue sendiri kalo gue bener-bener jadi kaya manusia yang sia-sia banget dulu.

Tapi benar, lama-kelamaan gue bosan dengan ketidakbenaran gue memandang segala hal. Gua lelah menjadi budak duniaaaaaaaa. Gue berlatih untuk paling tidak nggak memberi penilaian terhadap apapun, baik di diri gue maupun diri orang lain.

Gue berusaha.

Gue mulai berfikir seperti yasudah lah kalau memang alis gue belah ya belah aja. Kalau memang gue kurus yasudah paling tidak alhamdulilah gue sehat. Itu suatu kenikmatan besar dibanding sekedar badan berisi seperti yang gue damba-dambakan. Kalau memang kulit wajah gue lagi bermasalah, nggak sama dengan warna kulit asli gue yasudah kenapa memusingkan itu. Gue cuma perlu cari solusi supaya warna kulit gue balik. Gue mengurangi untuk memusingkan hal-hal yang tidak perlu dipusingkan. Gue pun menahan diri, gue belajar untuk tidak menilai atau mengusuri orang lain.

Jadi, berawal dari mencintai diri sendiri dengan baik, membuat kita jadi pribadi yang lebih rendah hati dalam menilai orang lain. Kalau gue dan setiap orang mampu menghargai kekurangan dan kelebihan diri sendiri dengan baik, maka bakal mudah untuk menghargai  kekurangan dan kelebihan orang lain.

Jangan menjadi orang yang haus akan pengakuan.

Hargailah dirimu juga orang-orang di sekitarmu. Mulailah untuk melihat indahnya dirimu dan hidupmu, bukan segala kurangnya:).

18 Juni 2017

Setelah sepuluh bulan

Holaaaaaaaa!
Selain kamu, ternyata nulis juga bikin kangen.

Udah lama nggak nulis kayanya tanya kabar dulu kali ya, kali aja kamu habis disakitin. Jadi apa kabar nih? Udah move on?
So guys sorry baru bisa nulis lagi. Entah sibuk atau sok sibuk, intinya gue yang tidak menyempatkan waktu untuk nulis.

Akhirnya gue nulis blog lagi, setelah hampir sepuluh bulan disibukkan dengan kegiatan kuliah. Ellen udah kuliah? Iya guys hehe.
Ternyata jadi mahasiswa itu gini ya, tugasnya bikin makalah, presentasi, jurnal, bikin makalah, presentasi, jurnal, makalah, presentasi, makalah, presentasi, gitu mulu. Belum lagi kalau kating udah bersabda :

"Itu belum apa-apa dek!"

Gue kaya seketika "ok, perjalanan masih panjang:))))"

Well, ternyata kuliah macam di FTV itu benar-benar imajinasi. Jadi jangan berekspektasi berlebih ya. Hangout every day, haha-hihi, kantung mata bercahaya, ketemu cowo baik kayanya oke nih terus langsung jadian, itu mitos! Yap, mulus banget kuliah lu kaya kulitnya raisa.

Bilang begitu bukan berarti begitu buruk juga. Ada saatnya kita bakal ngerasa "ya ampun tugasnya banyak banget" dan ada saatnya "yes malam ini free!" Trust me.
Itu siklus, gue nggak kuat begadang tapi ada hari dimana gue mata panda. Yup, tuntutan keadaan. Jadi, sudah bukan tempatnya buat leha-leha. Apalagi, menurut gue fakultas gue belum ada apa-apanya dibanding fakultas lain yang mengharuskan laporan ditulis tangan. Laporan bisa sampai puluhan lembar, sampai lambang universitas pun digambar. Proud of them.
Mereka mungkin nggak tau kalau masuk jurusan tsb akan berat tugasnya. Tapi ini soal resiko dan tanggung jawab atas apa yang mereka pilih. Jadi harus cinta!
Kaya aku cinta kamu, akun. Tapi belum banyak.
Oke bicara soal main, gue jarang main ke luar. Tapi tetap bisa menghabiskan waktu dengan teman, wifian misalnya. Btw, gue fakir wifi HAHA download drama korea itu harga mati.

Sebagai anak yang jauh dari orang tua gue udah mengalami fase-fase sakit. Fix nggak enak. Lemes-lemes sendiri, laper mau beli makan tapi mager, gak sanggup bangun dari kasur tapi tugas bejibun. Ya sbenernya tinggal berdua sama papa, tapi gitu beliau kerja dari pagi sampai malam. Pokoknya nggak asik, maka untuk kamu sahabat kos, jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit. Kalo kamu sakit yang nyakitin aku siapa?

Anyway, beberapa hari lalu gue sempat baca salah satu oa yang muncul di timeline kalau tidak salah Student's Latter, dan ngakak so hard.

"Dari : aku 
Untuk : dede emesh yg memenuhi explore instagram ku dengan screenshots hasil sbm 

Pesan : 
Gimana? Seneng ya? Udah siap ospek sebelum subuh? Udah siap osjur? Udah siap kurang tidur? Udah siap revisi jurnal? Udah siap ldko organisasi? 

Udah siap belum?"

WKWKWKWK!!!

Gue mendadak jadi tokoh antagonis disini, seketika ketawa jahat. Tiba-tiba aja flashback ketika subuh-subuh gue udah dikampus buat ospek, bahkan belum masuk subuh. Dan gue nggak tau jurusan gue yang mana dong guys:")
Masih gelap, nggak boleh berisik dan udah pada baris. Jadi mau nggak mau gue asal baris. Syukur hari itu lagi beruntung, pokoknya nggak kena kakak komdis. Gue jadi mikir, sebentar lagi mereka ngerasain juga yang begituan. So, semangat ya adik2!

Finally, september nanti gue udah bukan maba lagi. Pingin ketawa nih. Buat kaos abu-abu gue yang warna lengannya beda, bye. Yaaa, banyak banget yang di dapet selama 2 semester ini. Ternyata lelahnya SMA itu nggak ada apa-apanya. Seriously. Lain waktu gue bakal cerita.

Selamat liburan!
Nulis yang berbobot kapan-kapan ya. Minal aidin wal faidzin!

15 Agustus 2016

Ada Apa Dengan Tujuh Belas-an?

Klik!
Play lagu wajib Hari Merdeka dulu biar semangat, kalau lagu Menangis semalam-Audy nanti galau guys. Sudah ketebak ya kalau saya bakalan bahas soal Hari kemerdekaan negara kita? Tapi ngomong-ngomong hati kamu kapan merdeka nya? Nggg~ skip aja deh nanti dikira jahat.

Merdeka.
Entah sudah berapa banyak lagu dan puisi yang tercipta mengatas namakan kata itu. Entah sudah berapa kali saya diminta berteriak merdeka sambil mengepalkan tangan bareng anggota partai PDIP kala TRY OUT dulu:") Merdeka! Merdekaaaa!
Bentar-bentar merdeka, bentar-bentar di minta berdiri, bentar-bentar teriak lagi. Tapi nggak papa, sebagai pemudi Indonesia juga harus menunjukkan rasa nasionalis nya kan? #asikk

Apa sih yang identik dengan 17 agustus sebagai hari kemerdekaan Indonesia?
Hampir di seluruh penjuru nusantara pasti merayakan kemerdekaan negara kita dengan memasang bendera, patok dan mengadakan lomba-lomba ya. Lomba wajib yang harus ada itu biasanya adalah :
Lomba lari dari kenyataan
Loma bawa gebetan kelereng pakai sendok
Lomba masukin mantan paku ke dalam botol
Lomba panjat yang belum di pinang
Lomba tarik hati gebetan tambang
Loma balap nikah karung

Tapi buat tahun ini dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia ada hal menarik nih di daerah saya, dimana hampir setiap rumah memasang lampu warna warni yang di rekatkan di batang bambu yang panjang dan bentuknya melengkung ke arah jalan. Belum lagi kebanyakan di ujung lampu sengaja dibuat berbentuk bintang, biar ala-ala gitu. Kebayang gak? 






Jadi selain memasang bendera dan memasang patok, kami memasang lampu warna warni ditepi jalan. Lalu saat sudah malam, lampu-lampu akan di nyalakan dan membuat jalan jadi kelihatan indah, terang, warna-warni gitu kaya wig nya janneta janet. #apasihel
Tapi serius, saya suka sekali melihatnya, apalagi karena dicondongkan ke arah jalan jadi saat berjalan di tengah jalan seperti lewat terowongan haha
Walaupun sedikit mengecewakan sih sebab nggak semua rumah memasang lampu tersebut. Entah sebab tidak tertarik, entah sebab tidak sempat, entah sebab belum. Alhasil posisi lampunya kadang rapat juga kadang renggang.

Ceritanya kemarin malam saya jalan-jalan dengan keluarga, motivasi nya sih hanya ingin melihat lampu-lampu itu. Dari hasil observasi kemarin malam di dapati kesimpulan kalau peminat memasang lampu warna-warni tersebut paling banyak adalah masyarakat Dayaasri, Murni Jaya, Simpang PU, dan Kalimiring. Tapi bukan kesimpulan mutlak sih sebab saya cuma jalan-jalan sampai Kalimiring lalu balik lagi ehehe

Sebelumnya saya sempat berfikir apakah kegiatan memasang lampu warna-warni ini adalah usulan dari Pemerintah atau inisiatif masyakarat sendiri, tapi sampai sekarang belum dapat jawabannya. Saya juga sempat mengingat-ingat, sepertinya tahun-tahun lalu memang belum ada acara pasang memasang lampu warna-warni ini. Ini pernyataan hasil mengandalkan ingatan saya ya, takut salah ingat. Tapi kalau soal kamu sih saya ingat benar #eaaaa
Intinya sih, saya sangat mengapresiasi kegiatan para warga yang memasang lampu-lampu di depan rumahnya. Sebab di dalam itu semua ada niatan sebagai bentuk rasa bahagia dan ikut merayakan atas kemerdekaan Indonesia. Kita bisa menunjukkan kebahagian dengan banyak hal kan?

Sekarang sudah H-2 hari kemerdekaan, sebenarnya ingin sekali ikut lomba pada saat 17an nanti, tapi tidak bisa. Padahal saya ingin ikut lomba. Iya, lomba lari dari kenyataan. *langsungplaylagugalau*
Jadi bagaimana di daerahmu merayakan hari kemerdekaan pada 17 Agustus ini? Sama?

Oiya, sebelumnya saya mau mengucapkan selamat hari kemerdekaan Indonesia. Dirgahayu Indonesiaku! Aku sayang Indonesia, kamu juga #eaaaa #gombalterussampemampus